Jika digabungkan dengan laba kuartal I sebesar 6,92 miliar dolar AS, total laba semester I 2026 melonjak sekitar 70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perusahaan energi besar lainnya seperti BP dan Equinor juga menikmati lonjakan laba tahun ini karena memperoleh keuntungan dari volatilitas harga minyak.
Sebelum konflik pecah, harga minyak Brent berada di kisaran 73 dolar AS per barel. Setelah perang berlangsung, harganya sempat melampaui 120 dolar AS per barel, sebelum kembali turun ke bawah 100 dolar AS di tengah spekulasi mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.
Pergerakan harga yang tajam tersebut memperlebar selisih harga beli dan jual, sehingga meningkatkan potensi keuntungan dari aktivitas perdagangan minyak.
Di balik kenaikan laba, konflik Timur Tengah juga berdampak pada operasional perusahaan.