Namun militer mengonfirmasi telah menembak mati enam tahanan pada akhir bulan lalu di Desa Kyauk Tan.
Dokumen menunjukkan, tujuh serangan melanggar hukum menewaskan 14 warga sipil dan melukai puluhan lainnya. Beberapa muslim Rohingya yang memilih bertahan di tempat tinggal mereka juga dibunuh.
"Operasi terbaru di Negara Bagian Rakhine menunjukkan bahwa militer menyerang tanpa penyesalan, memperbaiki diri, dan tidak bertanggung jawab, terhadap warga sipil," kata Direktur Regional Amnesty, Nicholas Bequelin.
Militer Myanmar belum menanggapi terkait laporan terbaru Amnesty ini.
Kelompok hak asasi ini juga mengkritik pemerintah karena memilih diam, sementara pasokan obat-obatan, makanan, dan bantuan kemanusiaan diblokir pihak berwenang.
Sementara itu Amnesty juga menyebut gerilyawan AA melakukan pelanggaran HAM terhadap warga sipil, meskipun tak sampai membunuh. Mereka mengirim surat bernada ancaman disertai dengan peluru ke pejabat lokal dan kalangan bisnis.
Namun juru bicara AA, Khine Thu Kha, menepis tuduhan itu.
"Saya dengan tegas mengatakan itu tidak terjadi," kata Khine Thu Kha.