Di sisi lain, Herik menyoroti kondisi industri pers nasional yang tengah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari disrupsi digital hingga persoalan keberlanjutan ekonomi media dan kesejahteraan jurnalis. Karena itu, dia meminta negara hadir melalui regulasi yang adil dan mendukung keberlangsungan ekosistem pers tanpa mengintervensi independensi redaksi.
"IJTI kembali mengingatkan kepada semua pihak mengenai pentingnya memahami landasan kerja jurnalis. Pers menduduki posisi strategis bersama eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Tanpa pers yang bebas dan kritis, fungsi checks and balances dalam pemerintahan tidak akan berjalan optimal. Menghormati profesi Jurnalis yang bekerja sesuai Kode Etik Jurnalistik sama halnya dengan merawat kebebasan rakyat dan menjaga martabat demokrasi di Indonesia," kata Herik.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyinggung keberadaan pihak-pihak yang disebutnya sebagai 'londo ireng' saat menghadiri puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis (23/7/2026) malam.
Prabowo awalnya menyoroti pemberitaan media yang menurutnya lebih banyak mengangkat sisi negatif, meski pemerintah telah melakukan berbagai pembangunan, termasuk renovasi puluhan ribu sekolah.
“Ada juga media-media yang, ya kan, walaupun kita sudah perbaiki 27.000 sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki, dia taruh di halaman pertama. Dia kira kita nggak ngerti,” kata Prabowo.