Indonesia tidak membutuhkan bank sentral yang sekadar mengikuti arah angin politik, melainkan lembaga independen yang mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah kencangnya badai global. Sebab dalam perjalanan ekonomi, pengemudi yang baik bukanlah yang selalu menginjak pedal gas, melainkan yang tahu kapan harus memacu kecepatan, kapan harus menginjak rem, dan yang paling utama, tidak pernah kehilangan arah tujuan.
Pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI, yang memicu pelemahan nilai tukar rupiah dan koreksi pasar saham, telah meningkatkan kekhawatiran publik terhadap arah kebijakan moneter serta independensi bank sentral ke depan.
Independensi BI sejatinya mewujud dalam koordinasi intensif dengan pemerintah, bukan subordinasi. Melalui bauran kebijakan (policy mix) yang mencakup suku bunga, makroprudensial, operasi pasar, serta sistem pembayaran digital, bank sentral berkomitmen menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, dan menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Penunjukan gubernur baru senantiasa menjadi sinyal krusial bagi pasar keuangan. Pemimpin baru tersebut mengemban mandat untuk tetap fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, memperkuat ketahanan sistem keuangan, serta meningkatkan sinergi bersama kebijakan fiskal, OJK, dan LPS.