Masyarakat dapat memantau kualitas udara melalui ISPUnet yang telah terintegrasi dengan aplikasi SATUSEHAT. Informasi tersebut dapat menjadi acuan untuk menyesuaikan kegiatan di luar ruangan dengan kondisi pencemaran udara.
Di tengah pencemaran udara akibat karhutla, Kemenkes mencatat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak sejak 18 Agustus hingga 21 Oktober 2026.
Berdasarkan data per 21 Oktober 2026, sebanyak 75.172 kasus terjadi pada anak usia 0–5 tahun atau balita, sedangkan 258.298 kasus lainnya menimpa warga berusia di atas lima tahun. Kasus tersebut tersebar di 68 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak karhutla.
Asap karhutla mengandung PM2.5 yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Paparan polutan juga dapat memicu iritasi mata, memperburuk asma dan penyakit paru, serta meningkatkan risiko gangguan jantung dan pembuluh darah, terutama pada orang dengan kondisi kesehatan tertentu.
Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan. Warga yang mengalami sesak napas atau batuk yang semakin memburuk disarankan segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan.