Pada Agustus 2026, Indonesia mencatatkan inflasi 3,19 persen secara tahunan. Lalu, secara tahun kalender terjadi inflasi 1,86 persen (year to date). Kemudian terjadi peningkatan Indeks Harga Konsumen dari 111,73 pada Juli 2026 menjadi 111,97 pada Agustus 2026.
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada Juli 2026 sebesar 120 juta dolar AS, usai sempat mengalami defisit pada Juni 2026 lalu sebesar 450 juta dolar AS.
Indonesia mencatatkan ekspor Juli 2026 mencapai 26,22 miliar dolar AS atau naik 6,05 persen jika dibandingkan Juli 2025 (YoY). Nilai ekspor migas tercatat mencapai 0,79 miliar dolar AS atau turun 14,58 persen, sedangkan nilai ekspor nonmigas naik 6,84 persen dengan nilai pada Juli 2026 sebesar 25,45 miliar dolar AS.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.740-Rp17.790 per dolar AS.