"Saya berharap ke depannya, setiap kasus yang terlibat atau diduga melibatkan oknum TNI tidak lagi dibedakan dengan orang sipil, dan dapat diperiksa bersama-sama tanpa adanya perbedaan perlakuan di hadapan hukum," kata dia.
Selain itu, Lenny Damanik, orang tua dari MHS (15) yang tewas dianiaya oknum TNI juga memberikan kesaksian. Dia menyoroti vonis 10 bulan penjara yang dijatuhkan hakim peradilan militer kepada oknum TNI sebagai pelaku penganiayaan anaknya.
Dia mengaku seperti mati dua kali saat tahu pelaku hanya dipenjara 10 bulan. Lenny mengatakan dirinya bukanlah ahli hukum, melainkan seorang ibu yang ingin mencari keadilan atas kematian anaknya.
Di hadapan majelis hakim, Lenny ingin hukum membedakan antara yang berseragam, berkuasa, dan rakyat biasa.
"Jika hukum tidak mampu menghadirkan keadilan bagi anak saya, saya khawatir dia juga akan gagal melindungi anak-anak lain di masa depan," kata Lenny.