Jurnalis Herwanto Geri, penyandang disabilitas (tidak punya tangan kanan) berkesempatan menguji mobil listrik Hyundai Ioniq 5. (Foto: Herwanto Geri/Hyundai)
Herwanto Geri

JAKARTA, iNews.id - Hyundai telah meluncurkan mobil listrik yang diproduksi pertama di Indonesia Ioniq 5. Tanpa diduga kehadiran mobil tanpa emisi ini mendapat sambutan positif dari pasar Tanah Air dengan membukukan penjualan lebih dari 1.700 unit. 

Bagaimana mengendarai mobil listrik ini? Jurnalis MNC Portal Indonesia (MPI) mewakili iNews.id, Herwanto Geri, penyandang disabilitas (tidak punya tangan kanan) berkesempatan menguji mobil listrik Hyundai Ioniq 5. Rute yang ditempuh Jakarta-Bandung PP, pada Rabu 22-23 Juni 2022.

Ada 10 mobil listrik Ioniq 5 terparkir rapi di depan loby Senayan Park untuk dijajal para jurnalis. Rombongan memulai perjalanan dari Senayan Park, Jakarta Selatan menuju Cikole, Bandung, Jawa Barat, pukul 10.00 WIB.

Ioniq 5 yang dijajal perfomanya, adalah tipe Prime Long Range dan Signature Long Range. Pada perjalanan hari pertama jurnalis berkesempatan mengemudi Hyundai Ioniq 5 tipe Prime Standar Range. Mobil seharga Rp718 juta tersebut memiliki kapasitas baterai 58 kWh. 

Kesan pertama saat masuk dalam kabin Hyundai Ioniq 5, terasa sangat futuristik. Semua kontrol berbasis elektrik. 

Pada saat berangkat kondisi baterai mobil di angka 98 persen dengan estimasi jarak tempuh maksimal 401 km.

Kontrol elektrik Hyundai Ioniq 5 dilengkapi adjustment, kemudian di bagian kursi depan juga terdapat tombol secara elektrik untuk mengatur posisi kursi. Tak hanya itu, panoramic roof dapat dibuka otomatis menambah kesan modern. 

Hyundai Ioniq 5 juga dilengkap fitur adaptive curse controll yang membuat pengemudi tak perlu lagi menginjak gas saat harus berjalan konstan. Sebagai pemuda difabel fitur ini sangat membatu.

Ada tiga mode berkendara, yaitu Eco, Normal dan Sports. Masing-masing drive mode memberikan sensasi berkendara berbeda bagi pengemudi.

Pilihan mode Eco dapat menghemat baterai dalam perjalanan. Pada mode normal, pengemudi tak perlu injak pedal rem, mobil akan berhenti dengan sendirinya. 

Terakhir mode sport, jujur bagi saya yang pengendara tangan satu tak perlu khawatir, meski ngebut di atas 100 km. Setir pada kemudi sangat stabil apalagi sistem pengereman sangat aman. Namun, kekurangan mode ini adalah sangat menguras konsumsi daya baterai. 

Setibanya di Hutan Jati, berdasarkan indikator pada dashboard, baterai yang tersisa 70 persen. Kemudian pukul 13.30 WIB, jurnalis peserta test drive Hyundai Ioniq 5 melanjutkan perjalanan menuju Bandung. 

Di Kota Kembang itu, kami menghadapi medan jalan yang menanjak dan berliku. Namun, mobil listrik ini tidak memiliki hambatan saat berakselerasi di tanjakan berbatu.

Setibanya di garis akhir, berdasarkan pantauan baterai masih tersisa 43 persen. Dalam indikator memperlihatkan Hyundai Ioniq dapat menempuh hingga 210 kilometer dengan sisa baterai tersebut.

"Kami memang menyiapkan sesi test drive ini untuk membuktikan mobil listrik Ioniq 5 dapat digunakan berkendara jarak jauh Jakarta-Bandung-Jakarta dengan hanya sekali mengisi daya baterai," ujar Uria Simanjuntak, head of public relations PT Hyundai Motors Indonesia (HMID).

Ioniq 5 jadi power bank

Setelah istrirahat beberapa jam di penginapan kawasan Cikole, Bandung Jawa Barat, pukul 19.30 WIB peserta kembali mengikuti kegiatan jumpa pers di tempat alam terbuka dikelilingi pohon pinus. Di situ, mulai dari sound system, lampu untuk penerangan hingga alat band satu set menggunakan sumber tenaga listrik dari mobil Hyundai Ioniq 5.

Mobil ini bisa menjadi power bank atau generator pada kondisi tidak ada listrik atau darurat. 

Pada kesempatan itu, Hanim Faizal, product expert HMID menjelaskan, mengenai fitur i-pedal. Fitur ini dapat mengatur jarak mobil yang berada di depan saat berkendara di jalan menurun.

“Selain bisa mengatur cara pengereman secara auto pilot, mode ini juga dapat membantu baterai men-charge sendiri,” katanya. 

Untuk mode cruise control, pengendara dapat mengatur kecepatan sendiri. Mode tersebut memberikan kemudahan bagi pengendara tanpa perlu menginjak pedal dan kecepatan akan mengikuti kendaraan di depan serta mengerem secara auto pilot. 

Menuju Jakarta dari Bandung

Keesokan harinya, jurnalis berganti mobil mengendarai kendaraan Hyundai Ioniq 5 Prime Long Range. Harga tak berbohong, tipe ini sangat memanjakan penumpang dan pengendara.

Start awal pulang ke Jakarta, kondisi baterai mobil di angka 57 persen. Jurnalis menjajal mode Eco ditambah dengan fitur i-pedal saat berkendara di jalan raya, mode ini benar-benar sangat menghemat pemakaian baterai ketika berkendara. 

Pengendara juga tak perlu menginjak pedal rem saat menurunkan gas, sebab dengan otomatis mobil dengan sistem pengereman mobil listrik ini sudah otomotis.

Di kawasan Lembang, Bandung, Jawa Barat, panoramic roof dibuka secara otomatis. Fitur ini, membuat nyaman pengendara dan khususnya penumpang di bagian belakang karena bisa melihat pemandangan langit yang cerah dan juga pohon pinus di sepanjang perjalanan.

Di bagian kursi terdapat fitur penghangat dan pendingin. Fitur ini dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan pengendara. 

Perjalanan dilanjutkan ke Tol Pasteur kemudian melewati tol layang Mohammad Bin Zayed (MBZ) dan akhirnya memasuki tol Dalam Kota Jakarta. Sesampainya di Jakarta kondisi baterai mobil dalam indikator di angka 45 persen. Perjalanan selama 6 jam Bandung-Jakarta baterai yang terpakai hanya 12 persen.

Pengalaman berkendara Hyundai Ioniq 5, fitur-fiturnya memberikan kepraktisan dan sangat membantu pengendara penyandang disabilitas. Ini menjadi nilai plus bagi kendaraan modern.


Editor : Dani M Dahwilani

BERITA TERKAIT