“Ya, kondisinya masih darurat karena kami harus merayakan Maulid Nabi di tenda ini. Anak-anak banyak yang mengeluh karena cuacanya panas,” ujarnya.
Di sisi lain, perayaan Maulid Nabi di Dusun Tribulaka Sasak sedikit berbeda dengan daerah lain. Tumbuh di tengah masyarakat Bali membuat lahirnya akulturasi budaya pada perayaan hari-hari besar Islam di daerah ini.
Tokoh agama Islam di Dusun Tribulaka Sasak, Erbo mengatakan, masyarakat menggunakan buah dan kue yang ditata menyerupai banten pajegan dalam tradisi umat Hindu. Hal ini sebagai bentuk syukur atas hasil bumi yang didapat. Selain itu pada prosesi akikahan atau potong rambut juga menggunakan sarana banten atau sesaji menyerupai umat Hindu.
“Ini adalah adat budaya kami, bentuk akulturasi budaya dengan saudara-saudara umat Hindu dan bentuk kerukunan umat beragama di sini. Hasil bumi ini sebagai ucapan rasa syukur umat kepada Alllah. Setelah ini nanti ada doa bersama, zikir bersama, dan akikahan,” kata pemuka agama Erbo.