Respons Presiden FIFA Gianni Infantino berbeda. Dia menyampaikan FIFA tidak punya kuasa atas kebijakan pemerintah maupun aparat keamanan sebuah negara.
“Kami bukan raja dunia yang bisa mengatur pemerintah dan kepolisian,” kata Infantino.
“Mungkin terkadang bagus juga untuk tenang, santai. Terkadang, langsung berteriak dan ribut justru memberi efek sebaliknya dalam mencari solusi,” tuturnya.
Pernyataan itu memunculkan sorotan tajam. FIFA memilih membayar penuh Artan, tetapi belum memberi jawaban tegas soal upaya melindungi wasit yang mereka pilih sendiri.
Artan dipilih FIFA, diakreditasi FIFA, lalu ditolak masuk AS dengan alasan yang belum dibuka ke publik. Di sisi lain, UEFA bergerak cepat dengan memberinya salah satu tugas besar di kalender mereka.
Kasus Omar Artan pun menjadi salah satu cerita paling pahit jelang Piala Dunia 2026. Dia gagal mencetak sejarah di lapangan, tetapi namanya kini menjadi simbol perdebatan besar soal kekuasaan sepak bola dan batas politik negara tuan rumah.