Dalam rantai pasok makanan dan hasil perikanan, sistem tersebut memungkinkan produk tetap berada dalam kondisi suhu yang dibutuhkan ketika berpindah dari pelabuhan, gudang, pusat distribusi, hingga lokasi tujuan.
Namun, penggunaan reefer container sebagai fasilitas penyimpanan permanen perlu mempertimbangkan kebutuhan operasional dan konsumsi energinya.
Advisor TITAN Indonesia dari PT DS Solutions International, Kelvin Lim, mengatakan bahwa masih ada pelaku usaha yang menyamakan reefer container dengan cold storage karena keduanya sama-sama menggunakan sistem pendinginan.
"Banyak pelaku usaha yang berkembang, ketika butuh solusi penyimpanan dingin, refleksnya langsung membeli reefer container karena paling mudah ditemukan di pasaran. Tapi ini keliru sejak awal," kata Kelvin dalam seminar RHVAC Expo 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK2, Kamis (10/9/2026).
Menurut dia, reefer container dirancang untuk mengangkut muatan dalam perjalanan, bukan menjadi fasilitas penyimpanan yang berorientasi pada efisiensi energi dalam jangka panjang.