Jakarta Super Gerah gegara Fenomena Urban Heat Island, Apa Itu?

Muhammad Sukardi
Jakarta terasa lebih gerah belakangan ini. (Foto: Zoom Earth)

Aspal jalan, trotoar, atap, dan dinding bangunan dapat menyimpan energi panas selama siang hari. Ketika Matahari terbenam, material tersebut melepaskan panas secara bertahap sehingga suhu lingkungan di sekitarnya tidak langsung turun.

Kondisi ini berbeda dengan kawasan yang memiliki banyak pepohonan dan lahan terbuka. Vegetasi memberikan keteduhan sekaligus membantu mendinginkan lingkungan melalui evapotranspirasi, yaitu proses pelepasan uap air dari tanah dan tumbuhan ke atmosfer.

Sebaliknya, kawasan yang didominasi beton dan aspal memiliki kemampuan pendinginan alami yang lebih terbatas. Kepadatan bangunan juga dapat memengaruhi sirkulasi angin dan pelepasan panas.

Aktivitas manusia, seperti penggunaan kendaraan bermotor dan pendingin ruangan, turut menghasilkan panas yang dapat menambah beban termal di lingkungan perkotaan.

Akibatnya, jalan yang minim pepohonan bisa terasa lebih menyengat dibandingkan taman rindang, meskipun keduanya berada di wilayah yang sama.

Editor : Muhammad Sukardi
Artikel Terkait
9 jam lalu

BMKG Sebut Modifikasi Cuaca Pakai Dry Ice Bantu Urai Kabut Asap Karhutla, Jarak Pandang Membaik

20 jam lalu

TNI Kerahkan 3 Pesawat Cassa untuk Modifikasi Cuaca di Kalsel, Bawa 2,4 Ton Dry Ice

24 jam lalu

BMKG Mulai Gelar Operasi Modifikasi Cuaca Pakai Dry Ice, Picu Hujan di Wilayah Karhutla

1 hari lalu

BMKG Modifikasi Cuaca Pakai Dry Ice, Urai Asap Karhutla di Sumatera-Kalimantan

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal