Ada satu fakta mengejutkan dari kebakaran Indonesia 2026. Banyaknya titik api yang terdeteksi satelit ternyata tidak selalu menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.
NASA menjelaskan, sensor MODIS dan VIIRS memang digunakan untuk memantau kebakaran secara hampir real-time. Pemerintah Indonesia juga memanfaatkan pengamatan tersebut dalam sistem pemantauan kebakaran.
Bahkan, platform pemantauan berbasis MODIS dan VIIRS milik Kementerian Kehutanan, SiPongi, mencatat 946 hotspot pada 31 Agustus 2026.
Tetapi ketika kebakaran semakin parah, jumlah titik api yang terdeteksi satelit justru bisa menurun.
Penyebabnya adalah asap dan awan tebal yang dapat menghalangi sensor satelit. Kebakaran yang berada di bawah tajuk hutan juga lebih sulit terlihat. Begitu pula dengan api yang membara di bawah permukaan gambut.