"Indonesia baru sekitar tiga minggu memasuki musim kebakaran, tetapi kami melihat aktivitas kebakaran meningkat tajam, mirip dengan 2015," kata Field, dikutip dari laman resmi NASA, Jumat (4/9/2026).
Menurut dia, fenomena El Niño yang kuat membuat musim kemarau semakin kering di wilayah Indonesia yang memang rawan kebakaran. Kondisi tersebut diperparah oleh fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) yang juga sedang berlangsung.
Sebagai gambaran, kebakaran besar pada 2015 berlangsung selama lebih dari tiga bulan dan menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca.
Sementara itu, hingga 2 September 2026, kebakaran Indonesia yang telah berlangsung sekitar satu bulan diperkirakan telah menghasilkan emisi sekitar 10 persen dari jumlah yang dilepaskan dalam kebakaran 2015.
Angka tersebut menunjukkan betapa cepat emisi dapat terakumulasi ketika musim kebakaran berlangsung dalam kondisi sangat kering.