Kemudian masih banyak koleksi-koleksi yang dipamerkan di ruang pamer lain di Museum La Galigo. Misalnya peninggalan dari Kerajaan Bone, yaitu replika Sembangeng Pulaweng yang artinya selempang emas. Selempang emas ini terbuat dari perak sepuh emas berbentuk rantai. Kedua ujungnya terdapat bentuk medali bertuliskan bahasa Belanda sebagai tanda penghormatan kerajaan Belanda kepada Arung Palakka.
Kemudian ada replika La Tea Riduni atau alameng, sarung dan hulunya berlapis emas. Setiap raja yang mangkat dikebumikan bersama alameng ini. Selalu muncul di atas makam dan bercahaya terang benderang, hal inilah sehingga disebut La Tea Riduni karena tidak berkenan untuk dikebumikan.
Selanjutnya ada replika Keris La Makkawa yang disebut juga Tappi Tatarapeng. Keris ini sangat berbisa, sehingga sekali tergores dalam sekejap akan meninggal atau dalam bahasa bugis disebut Makkawa. Pada masa kerajaan, keris ini dipergunakan oleh Arung Palakka.
Lalu, ada koleksi senjata tajam suku Bugis. Orang Bugis Makassar memiliki semboyan bukan seorang Bugis kalau tidak memiliki badik dan bukan laki-laki kalau tidak memiliki badik. Nah, di sini ada koleksi senjata tajam seperti badik, keris, tombak, dan parang yang merupakan hasil Panre bessi (Bugis) atau Pade'de bassi (Makassar), bagi suku Toraja pembuat parang disebut To'Mantappa Labok.
Pandai besi adalah orang yang memiliki ilmu dan kekuatan gaib. Tidak hanya memiliki kemampuan menempa besi menjadi senjata tajam, tetapi apa yang tampak pada sebuah senjata tajam seperti tanda-tanda khusus, urat-urat besi dan pamor merupakan simbol yang memiliki makna dan nilai tertentu.