“Masalah kedua, kode styrofoam itu di angka enam, jenis plastik yang paling susah didaur ulang. Jadi setelah sekali pakai, dia nyaris selalu berakhir jadi sampah yang nggak terurai atau pecah jadi mikroplastik,” ungkap Bang Sap.
Oleh karena itu, dia mengingatkan masyarakat untuk mengurangi penggunaan Styrofoam sebagai wadah makanan, terutama untuk makanan yang masih panas, berminyak, atau memiliki tingkat keasaman tinggi.
Sebagai alternatif, masyarakat dapat menggunakan wadah berbahan kaca atau stainless steel yang dapat digunakan berulang kali. Untuk kebutuhan tertentu, bahan seperti daun dan kertas juga dapat menjadi pilihan kemasan.
“Dan buat kamu yang punya usaha makanan, ini justru peluang, lho. Ganti kemasan yang lebih aman itu nggak harus mahal. Daun pisang malah nambah aroma, kertas kraft buat nasi kotak, atau besek bambu yang bikin kesan lebih premium. Konsumen sekarang malah lebih suka yang begini,” ujarnya.