Aman dari Ancaman Resesi, Sektor Batu Bara Miliki Propsek Positif di 2023

Mochamad Rizky Fauzan ยท Kamis, 17 November 2022 - 16:28:00 WIB
Aman dari Ancaman Resesi, Sektor Batu Bara Miliki Propsek Positif di 2023
Chief Financial Officer Asia PT Orica Mining Services, Velisia Gunawan, dalam webinar "Facing The Challenges of Indonesia's Mining Industry in 2023" secara virtual, Kamis (17/11/2022). (Foto: tangkapan layar)

JAKARTA, iNews.id - Sektor batu bara diprediksi aman dari ancaman resesi dan memiliki prospek yang positif di tahun 2023. Hal itu, terlihat dari kinerja fantastis yang dibukukan sektor batu bara di tahun 2022. 

Chief Financial Officer Asia PT Orica Mining Services, Velisia Gunawan, mengatakan tidak dipungkiri kecenderungan resesi di tahun depan semakin besar. 

Meski demikian, lanjutnya, kondisi perekonomian di Indonesia masih sangat terbantu terutama dari komoditas khususnya batubara dan minyak sawit.

Dia mengungkapkan, komoditas batu bara mencetak laba yang fantastis di tahun 2022. Hal itu diprediksi akan terus berlanjut pada tahun 2023 karena tingginya permintaan global, apalagi harga komoditas batu bara tetap diperdagangkan pada level yang tinggi.

"Kalau topiknya membahas 2023 di dunia tambang, kita (sektor batu bara) prospeknya masih sangat positif," kata Velisia, dalam webinar  "Facing The Challenges of Indonesia's Mining Industry in 2023" secara virtual, Kamis (17/11/2022).

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per November 2022, harga batu bara acuan (HBA) ditetapkan sebesar 308,20 dolar AS per metrik ton. Angka itu sedikit menurun dibandingkan Oktober 2022 yang mencapai 330,98 per metrik ton. 

Dia menilai, dampak konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina, juga China dan Australia yang memicu harga batu bara sangat tinggi. Meskipun ada beberapa koreksi beberapa bulan terakhir, tapi harga batu bara tetap masih tinggi dan diprediksi akan terus meningkat di tahun 2023.

Sebagaimana diketahui, pertambangan batu bara dan lignit tumbuh sebesar 9,41 persen, yang didorong oleh peningkatan permintaan dari luar negeri terhadap batu bara, serta kenaikan harga batu bara yang signifikan.

Lebih lanjut, pertambangan bijih logam tumbuh sebesar 9,03 persen, yang didorong oleh meningkatnya produksi tembaga dan emas di distrik mineral Grasberg, Papua.

Selain itu, kenaikan juga dikarenakan adanya peningkatan permintaan dari luar negeri terutama untuk komoditi emas dan tembaga.

Badan Pusat Statistik (BPS) pun melaporkan kenaikan harga batu bara di tingkat global berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi beberapa provinsi di Indonesia. 

"Misalkan di Sumatera Selatan, sektor pertambangan memiliki share dalam ekonominya 25,88 persen, dan ini kalau kita hitung source of growth-nya pertambangan merupakan terbesar ketiga setelah perdagangan dan industri pengolahan," kata Kepala BPS, Margo Yuwono, dalam konferensi pers beberapa waktu lalu. 

Terkait dengan itu, Velisia menyakini sektor batu bara tetap menjadi salah satu kontributor perekonomian Indonesia di tahun depan karena cenderung aman dari dampak resesi. 

"Kecendrungan resesi semakin besar ya, tidak bisa kita pungkiri lagi tapi kondisi perekonomian Indonesia sangat tertolong terutama dari komoditi khususnya di batu bara dan palm oil," kata Velisia.

Editor : Jeanny Aipassa

Follow Berita iNews di Google News

Bagikan Artikel:




Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda