Bukan Putin, Justru Negara Ini Dianggap Jadi Ancaman Terbesar Harga Minyak dan Gas

Dinar Fitra Maghiszha ยท Sabtu, 24 September 2022 - 13:49:00 WIB
Bukan Putin, Justru Negara Ini Dianggap Jadi Ancaman Terbesar Harga Minyak dan Gas
Bukan Putin, justru negara ini dianggap jadi ancaman terbesar harga minyak dan gas. (Foto: Istimewa)

NEW YORK, iNews.id - Para analis dan politikus menyalahkan invasi Rusia ke Ukraina saat harga minyak dan gas melonjak ke rekor tertinggi. Harga gas sempat mencapai puncaknya lebih dari 5 dolar AS per galon pada Juni lalu. 

Pemerintah AS Joe Biden bahkan menyebut melonjaknya harga bahan bakar yang terjadi setelah perang sebagai 'Putin’s price hike' saat itu. Namun dalam beberapa bulan sejak itu, harga gas telah turun sekitar 26 persen, bahkan meski perang terus berlangsung. 

Sekarang, para peneliti dari paltform manajemen aset alternatif ClockTower Group berpendapat, perang Rusia bukanlah risiko terbesar terhadap penurunan harga baru-baru ini. Menurut mereka, penyebabnya adalah negara Irak. 

Kepala Strategi ClockTower Group Marko Papic mengatakan, AS sedang mencoba untuk membuat Arab Saudi meningkatkan produksi minyaknya. Sementara secara bersamaan berusaha meningkatkan hubungan dengan Iran setelah pemerintahan presiden AS sebelumnya, yakni Donald Trump meninggalkan kesepakatan nuklir Iran pada 2015.

Dia berpendapat, berbicara dengan kedua pemain, yang merupakan musuh terkenal hanya akan memperburuk ketegangan antara kedua kekuatan regional, yang pada akhirnya dapat menyebabkan konflik sektarian di negara tetangga Irak sebagai pengekspor minyak terbesar keempat di dunia. Jika produksi minyak mentah Irak terpengaruh oleh konflik ini, harga minyak pasti akan naik, dan harga gas mengikuti.

"Risiko nyata terhadap pasokan minyak adalah ketegangan Iran-Saudi, kemungkinan akan meningkat secara dramatis karena AS berjuang untuk membuat kedua belah pihak senang. Washington harus memilih satu dari yang lain," tulis Papic dalam sebuah laporan, dikutip dari Fortune, Sabtu (24/9/2022).

Papic yakin AS mungkin berada dalam skenario kalah di timur tengah. Dia berpendapat, jika AS menolak Iran dengan menerima kesepakatan dengan Arab Saudi untuk impor minyak lebih banyak, itu akan memaksa negara tersebut membalas di Irak dengan mendukung milisi yang memicu kekerasan di wilayah tersebut. Dia mengingatkan, Iran telah mendukung milisi yang telah meluncurkan rudal ke kilang minyak dan menyerang gedung-gedung di dekat konsulat AS.

Editor : Jujuk Ernawati

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda