Industri Tambang Tak Semringah dengan Penguatan Dolar AS
Saat memulai ekspansi bisnis, industri tambang harus memerhatikan pergerakan rupiah. Jika rupiah terus berfluktuasi, maka akan menjadi disinsentif. Sebab, banyak komponen kegiatan di sektor ini yang menggunakan mata uang dolar AS.
“Untuk investasi banyak ya kayak peralatan dan juga dan hal ini investasi permodalan untuk melakukan eksplorasi juga menggunakan mata uang dolar, jadi banyak sekali di dalam komponen industri pertambangan yang menggunakan mata uang dolar,” ujar Hendra.
Lebih lanjut Hendra menegaskan, sejauh ini loyonya rupiah terhadap dolar AS belum berpengaruh besar terhadap petumbuhan pendapatan. Dia pun memastikan, tekanan terhadap mata uang Garuda hanya sementara. Untuk itu, pemerintah diharapkan segera menstabilkan nilai tukar rupiah agar industri tambang bisa menjalankan rencana kerja dengan baik.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution sebelumnya mengharapkan Bank Indonesia (BI) bisa memngambil langkah-langkah yang diperlukan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. "Kita tentu berharap BI mengambil langkah-langkah untuk mengembalikan rupiah," ujar Darmin.
Darmin mengatakan, pelemahan rupiah yang sedang terjadi sejak pertengahan Januari 2018 ini akibat tekanan ekstenal karena pelaku pasar menyikapi perkembangan ekonomi di AS. Untuk itu, tambah Darmin, upaya stabilisasi yang dilakukan bank sentral melalui cadangan devisa dibutuhkan agar volatilitas rupiah tidak terlalu besar. "Memang perlu pengendalian sekarang ini," kata mantan Gubernur BI ini.
Editor: Ranto Rajagukguk