"Kami tentu berkomitmen khusus untuk isu terkait pasar modal, rasanya boleh dipegang, kami tidak akan surut untuk terus mendorong tingkat maturity dan integritas pasar kita semakin baik ke depannya," ujar Hasan.
Dia menekankan, reformasi struktural bukan kebijakan yang dilakukan sekali dan selesai. Menurutnya, proses tersebut membutuhkan konsistensi, keberanian mengambil keputusan, serta kolaborasi seluruh pihak dalam ekosistem pasar modal.
"Structural reform is not one-time exercise. Ini butuh konsistensi, keberanian mengambil keputusan dan kolaborasi dari kita semua, seluruh pihak," katanya.
Selain itu, Hasan juga menilai koreksi IHSG perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Menurutnya, rekor IHSG pada akhir 2025 hingga puncaknya pada pertengahan Januari 2026 belum tentu mencerminkan kondisi fundamental dan struktural pasar modal yang ideal.
Dia mengatakan, di balik rekor tertinggi IHSG tersebut masih terdapat persoalan struktural yang seharusnya dapat diantisipasi lebih cepat.