Film Karya Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Raih 3 Penghargaan SANFFEST 2025
Di balik jubah dan kitab kuning, para santri dari berbagai penjuru Nusantara menghadirkan karya sinematik yang melampaui ekspektasi, mendobrak stigma lama yang selama ini melekat.
Neno Warisman, Ketua Komite SANFFEST 2025 yang akrab disapa Bunda Neno, mengungkapkan perjalanan menuju malam puncak bukanlah hal mudah. Selama kurang lebih dua bulan sejak ta'aruf pada 21 Oktober hingga malam penganugerahan, tim SANFFEST menjalani maraton siang malam, mendampingi santri di berbagai daerah, melakukan kurasi, penjurian, hingga menyiapkan standar baru dalam dunia penganugerahan film Indonesia.
"Ini benar-benar maraton, siang dan malam. Kami mendampingi santri di berbagai daerah, lalu berlanjut ke proses kurasi, penjurian, dan akhirnya penganugerahan," ujar Neno dalam keterangan resminya.
Tantangan terbesar, menurut Neno, adalah membangun brand baru dalam dunia penganugerahan film dengan standar berbeda dari ajang penghargaan umumnya.
SANFFEST menghadirkan orkestra dan paduan suara secara langsung, termasuk fanfare yang diciptakan dan dimainkan live, bukan sekadar playback atau musik siap pakai. Keputusan ini bukan tanpa alasan.