Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Menhut Bekukan Izin 32 Perusahaan Terlibat Karhutla, Terbaru 6 Korporasi
Advertisement . Scroll to see content

Asap Karhutla Ancam Kesehatan Masyarakat, Ini 6 Kelompok Rentan Terkena ISPA

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:07:00 WIB
Asap Karhutla Ancam Kesehatan Masyarakat, Ini 6 Kelompok Rentan Terkena ISPA
Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkatkan ancaman gangguan pernapasan bagi masyarakat, terutama kelompok rentan. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkatkan ancaman gangguan pernapasan bagi masyarakat, terutama kelompok rentan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 306.309 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla hingga 18 Oktober 2026, dengan 69.015 kasus dialami balita berusia 0-5 tahun. 

Dokter Spesialis Paru dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, Prof Erlina Burhan, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap ISPA di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk akibat karhutla.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Prof Erlina menyampaikan keprihatinan atas banyaknya kasus ISPA yang terjadi di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan.

“Hingga 18 Oktober 2026, Kementerian Kesehatan mencatat 306.309 kasus ISPA di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan, hampir 70 ribu di antaranya dialami balita. Saya turut prihatin atas kondisi saudara-saudara kita yang terdampak,” tulis Prof Erlina, dikutip Rabu (21/10/2026).

Dia berharap karhutla segera mereda sehingga kualitas udara berangsur membaik. Masyarakat juga diimbau memberikan perlindungan lebih kepada orang-orang terdekat yang berisiko mengalami gangguan pernapasan.

ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung hingga paru-paru. Penyakit ini dapat menimbulkan gejala berupa batuk, pilek, sakit tenggorokan, hingga sesak napas.

Meski sebagian besar kasus dapat pulih dengan sendirinya, ISPA bisa berkembang menjadi kondisi lebih serius pada orang dengan faktor risiko tertentu.

“Bagi kebanyakan orang, ISPA akan pulih dengan sendirinya. Namun ada kelompok yang perlu kita jaga lebih ekstra, karena bagi mereka, infeksi yang tampak ringan ini bisa menjadi serius,” ujar Prof Erlina.

Berikut enam kelompok yang perlu mewaspadai ISPA di tengah ancaman asap karhutla.

1. Bayi dan Balita

Bayi dan balita termasuk kelompok yang rentan terkena ISPA karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang. Kondisi tersebut membuat kemampuan tubuh mereka dalam melawan infeksi belum seoptimal orang dewasa.

Selain itu, saluran pernapasan anak yang masih kecil membuat lendir atau pembengkakan dapat lebih mudah mengganggu aliran udara dan menyebabkan sesak napas.

“Saluran napasnya pun masih kecil, jadi sedikit lendir atau pembengkakan saja sudah bisa membuat mereka sesak. Karena itu, ISPA yang pada orang dewasa hanya batuk-pilek, pada balita bisa berkembang jauh lebih berat,” kata Prof Erlina.

2. Lansia

Lansia juga berisiko mengalami ISPA dengan gejala lebih berat. Seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh dan mekanisme pertahanan alami saluran pernapasan cenderung mengalami penurunan.

Refleks batuk serta fungsi silia atau rambut-rambut halus di saluran pernapasan turut melemah. Padahal, keduanya berperan membantu membersihkan saluran napas dari partikel asing dan mikroorganisme.

“Refleks batuk dan rambut-rambut halus di saluran napas, yang bertugas mendorong virus dan bakteri keluar, juga tak lagi bekerja sekuat dulu. Akibatnya, infeksi lebih mudah turun ke paru-paru, sehingga ISPA pada lansia lebih berisiko menjadi berat,” ujarnya.

3. Ibu Hamil

Ibu hamil perlu memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan pernapasan selama masa kehamilan. Perubahan sistem kekebalan tubuh dan kondisi fisik dapat memengaruhi respons tubuh terhadap infeksi.

Ketika kehamilan semakin besar, rahim dapat membatasi ruang gerak diafragma. Pada saat yang sama, kebutuhan oksigen meningkat sehingga gangguan pernapasan perlu diwaspadai.

“Di saat yang sama, rahim yang membesar mendesak ruang paru-paru, padahal kebutuhan oksigen justru meningkat. Karena itu, ISPA lebih mudah membuat ibu sesak, dan dampaknya bisa ikut dirasakan janin,” ucapnya.

4. Perokok Aktif dan Pasif

Paparan asap rokok dapat merusak mekanisme pertahanan saluran pernapasan. Zat kimia di dalam asap rokok mengganggu fungsi silia dan melemahkan kemampuan paru-paru dalam melawan infeksi.

Risiko tersebut juga mengancam perokok pasif, termasuk anak-anak yang menghirup asap rokok di rumah. Karena itu, masyarakat perlu menghindari paparan asap rokok, terutama di ruang tertutup.

“Akibatnya, infeksi lebih mudah masuk dan bertahan. Risiko ini juga mengintai orang di sekitar perokok, terutama anak-anak yang menghirup asap rokok di rumah,” kata Prof Erlina.

5. Penderita Penyakit Kronis

Orang yang memiliki penyakit kronis, seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), diabetes, dan penyakit jantung, juga perlu mewaspadai ISPA.

Pada penderita asma dan PPOK, infeksi dapat memicu kekambuhan atau memperburuk gangguan pernapasan. Sementara itu, diabetes yang tidak terkontrol dapat mengganggu fungsi kekebalan tubuh sehingga tubuh lebih sulit melawan infeksi.

Pada penderita penyakit jantung, infeksi dan penurunan kadar oksigen dapat menambah beban kerja jantung serta meningkatkan risiko komplikasi.

“Sementara pada penyakit jantung, ISPA memicu peradangan dan menurunkan kadar oksigen, sehingga jantung dipaksa bekerja lebih keras, bahkan bisa berujung serangan jantung,” ujarnya.

6. Pekerja Luar Ruangan dan Warga di Wilayah Berpolusi

Pekerja luar ruangan serta warga yang tinggal di dekat jalan raya, kawasan industri, dan wilayah terdampak karhutla juga perlu meningkatkan kewaspadaan.

Paparan polusi udara dalam waktu lama dapat mengiritasi saluran pernapasan dan mengganggu mekanisme pertahanan paru-paru. Partikel halus dalam asap berpotensi memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada orang yang sudah memiliki penyakit paru sebelumnya.

“Terakhir, mereka yang setiap hari terpapar polusi udara dalam waktu lama, seperti pekerja di luar ruangan serta warga yang tinggal dekat jalan raya atau kawasan industri. Partikel halus dalam polusi ini merusak lapisan pelindung saluran napas dan melemahkan sel imun di paru-paru. Akibatnya, virus dan bakteri lebih mudah masuk dan menimbulkan infeksi,” tutur Prof Erlina.

Cara Mengurangi Risiko ISPA saat Karhutla

Di tengah paparan asap karhutla, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, menggunakan masker respirator yang sesuai ketika harus beraktivitas di lingkungan berasap, serta menjaga kualitas udara di dalam rumah.

Kemenkes juga mengimbau masyarakat untuk memberikan perhatian khusus kepada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta. Jika memungkinkan, gunakan penyaring udara di dalam ruangan dan hindari sumber polusi, termasuk asap rokok. 

Jika mengalami sesak napas, napas cepat, atau gejala yang semakin berat, segera cari pertolongan medis. Upaya pencegahan dan penanganan sejak dini penting untuk mengurangi risiko komplikasi ISPA.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut