Ingin Lebih Percaya Diri? Dokter Sarankan Lakukan Kebiasaan Sederhana Ini
JAKARTA, iNews.id – Membangun rasa percaya diri ternyata bisa dimulai dari kebiasaan sederhana, yakni memperhatikan cara berbicara kepada diri sendiri. Kalimat yang sering diucapkan dalam hati ternyata dapat memengaruhi bagaimana seseorang memandang kemampuan dan potensi dirinya.
Selama ini, banyak orang terbiasa mengucapkan kalimat negatif kepada diri sendiri, seperti merasa tidak pintar, tidak mampu, atau selalu gagal. Padahal, kebiasaan tersebut bisa membuat seseorang semakin terbiasa dengan penilaian buruk terhadap dirinya.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Adam Prabata, menjelaskan bahwa otak manusia dapat semakin mempercayai suatu pemikiran ketika hal tersebut terus-menerus diulang. Karena itu, kebiasaan berbicara kepada diri sendiri atau self-talk perlu diperhatikan.
Dalam utas di akun Threads miliknya, dr. Adam mengungkapkan bahwa pengulangan pemikiran berkaitan dengan fenomena illusory truth effect atau efek ilusi kebenaran.
"Kalau kita sering ‘mengulang’ suatu pemikiran, maka otak kita bisa percaya loh, termasuk pemikiran negatif. Meskipun pemikiran kita itu gak bener," jelas dr. Adam, dikutip Jumat (30/10/2026).
Dia menggambarkan mekanisme tersebut seperti jalan setapak di tengah hutan. Semakin sering sebuah jalan dilewati, semakin lebar dan mudah pula jalan itu dilalui. Begitu juga dengan pola pikir yang terus diulang, sehingga semakin mudah diakses oleh otak.
Kabar baiknya, kebiasaan tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk membangun persepsi diri yang lebih baik. Salah satu caranya dengan membiasakan afirmasi positif atau mengulang kalimat yang mendukung kemampuan diri.
"Nah untungnya, mekanisme pengulangan ini bisa dipakai untuk hal yang baik bagi diri kita. Misalnya percaya bahwa kita mampu dan pintar," tambah dia.
Artinya, seseorang bisa mulai mengubah kebiasaan berbicara negatif kepada diri sendiri menjadi kalimat yang lebih membangun. Misalnya, daripada terus mengatakan tidak mampu, seseorang bisa membiasakan diri mengatakan bahwa dirinya masih bisa belajar dan memperbaiki kemampuan.
Namun, dr. Adam mengingatkan agar afirmasi positif tidak dibuat secara berlebihan atau terlalu jauh dari kenyataan. Kalimat yang digunakan harus tetap masuk akal agar tidak menimbulkan tekanan baru.
"Tapi ingat, afirmasinya tidak bisa yang ‘terlalu jauh’ atau malah tidak masuk akal, karena ujungnya bisa terjadi stres karena disonansi kognitif," pungkas dia.
Karena itu, membangun rasa percaya diri bukan berarti harus memaksakan diri untuk selalu merasa hebat atau tidak pernah mengalami kegagalan. Seseorang justru perlu belajar menerima kekurangan sekaligus menyadari bahwa kemampuan masih bisa dikembangkan.
Membiasakan self-talk yang lebih sehat dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk mengubah cara pandang terhadap diri sendiri. Mulailah dengan kalimat positif yang realistis dan bisa dipercaya, kemudian ulangi sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Editor: Muhammad Sukardi