Tak Semua Ultra-Processed Food Harus Dihindari, Ini Penjelasan Ahli
JAKARTA, iNews.id — Ultra-processed food (UPF) kerap dianggap sebagai jenis makanan yang sebaiknya dihindari karena telah melalui banyak tahapan pengolahan. Padahal, para ahli menilai masyarakat tidak bisa menentukan kualitas pangan hanya berdasarkan seberapa panjang proses pengolahannya.
Istilah UPF semakin sering muncul dalam pembahasan mengenai pola makan dan kesehatan. Salah satu sistem yang banyak digunakan untuk mengelompokkan pangan berdasarkan tingkat pengolahannya adalah NOVA, yang membagi pangan menjadi empat kelompok, yakni pangan yang tidak atau minim diproses, bahan kuliner olahan, pangan olahan, dan pangan ultra-proses.
Sejumlah penelitian memang menemukan hubungan antara konsumsi UPF dalam jumlah tinggi dengan berbagai masalah kesehatan. Tinjauan besar yang diterbitkan dalam BMJ pada 2024 menemukan hubungan konsumsi UPF dengan sejumlah kondisi, di antaranya obesitas, diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, gangguan mental, hingga kematian dari berbagai penyebab.
Namun, temuan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa proses pengolahan menjadi penyebab langsung berbagai masalah kesehatan. Kandungan gizi, formulasi, jumlah dan frekuensi konsumsi, serta pola makan secara keseluruhan juga perlu diperhatikan.
Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan IPB University Prof Purwiyatno Hariyadi mengatakan, tingkat pengolahan tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran untuk menentukan kualitas pangan.