Tak Disangka, Rumput Purun dari Rawa Kalimantan Disulap Jadi Produk Bernilai Tinggi
Purun yang tumbuh di kawasan basah memiliki karakter yang membuat tanaman tersebut dekat dengan ekosistem rawa dan gambut. Dengan memberikan nilai ekonomi terhadap tanaman yang tumbuh di lanskap tersebut, masyarakat memiliki peluang untuk memperoleh manfaat dari sumber daya lokal tanpa harus mengubah fungsi lahannya.
Namun, pemanfaatan purun tetap perlu berjalan beriringan dengan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Nilai ekonomi material lokal tidak otomatis menjamin kelestarian ekosistem, tetapi dapat menjadi salah satu bagian dari model yang menghubungkan kesejahteraan masyarakat dengan keberadaan lanskap lahan basah.
Ke depan, jenama itu menargetkan perluasan jaringan hingga lebih dari 1.000 perajin pada 2030. Inisiatif tersebut juga diarahkan pada pengembangan kemitraan dengan sektor perhotelan premium internasional serta perluasan pasar ekspor.
Selain memperluas pasar, mereka berencana mengembangkan sistem ketertelusuran berbasis QR. Sistem tersebut nantinya memungkinkan konsumen mengetahui perjalanan produk sekaligus informasi mengenai dampaknya terhadap perajin dan lanskap asal material.
"Kami ingin membuktikan bahwa produk sehari-hari dapat menjadi bagian dari solusi. Ketika material, desain, dan rantai pasok dirancang dengan tepat, sebuah produk dapat menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus mendorong kita untuk lebih menghargai alam tempat material tersebut berasal," ujar Alexandra.
Editor: Muhammad Sukardi