Dalam gaya khasnya yang satir, Roy kemudian menyinggung kisah pewayangan “Petruk Jadi Ratu” untuk menggambarkan fenomena politik yang sedang terjadi di Indonesia. Ia menyamakan sosok “Petruk” dalam lakon tersebut dengan situasi politik di Tanah Air yang menurutnya “penuh ironi dan kepalsuan”.
“Apa yang terjadi sekarang ini sudah diramalkan para pujangga dulu. Ada kisah Petruk jadi ratu, yang menemukan jimat Kalimosodo tapi tak bisa memimpin dengan benar. Petruk ini sekarang diteruskan oleh Petruk kecil, yaitu Gibran,” sindir Roy disambut tawa para peserta diskusi.
Roy bahkan menambahkan sindiran keras dengan menyebut bahwa kendaraan politik yang ditunggangi Gibran kini diibaratkan sebagai “gajah tanpa ijazah”.
“Dulu Petruk numpak banteng, tapi sekarang numpak gajah. Kenapa disebut gajah? Karena gajah itu nggak punya ijazah,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Roy memastikan bahwa “Gibran’s Black Paper” akan segera diluncurkan di Surakarta, kampung halaman Presiden Jokowi dan Gibran. Ia menyebut, peluncuran tersebut akan dilakukan dalam suasana simbolis dengan pembacaan lagu dan syair sindiran.
“Buku ini akan kita launching di Surakarta Hadiningrat. Ini bukan soal kebencian, tapi soal kejujuran publik dan akuntabilitas seorang pejabat negara,” tutupnya.
Editor: Komaruddin Bagja