Ini Penjelasan di Balik Pemberian Nama Badai Siklon di Dunia
Sebelum Cempaka, Indonesia pernah diterjang badai siklon Anggrek pada 2010 dan Bakung pada 2014.
Sebenarnya, penamaan siklon diserahkan ke masing-masing regional agar mudah lekat dengan masyarakat di wilayah tersebut.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menjelaskan, pihaknya memantau penamaan badai siklon di masing-masing regional. Jika badai siklon berefek besar, bahkan mematikan, maka badai serupa di waktu kemudian akan diberi nama lain. Itulah sebabnya badan regional harus menyiapkan nama yang banyak dan mudah dihafal.
"Jelas, tujuan utama penamaan siklon/topan tropis pada dasarnya agar orang-orang dengan mudah memahami dan mengingat topan tropis/badai di suatu wilayah, sehingga dapat memfasilitasi kesadaran, kesiapsiagaan, manajemen dan pengurangan resiko bencana siklon tropis," demikian pernyataan WMO.
Awalnya, penamaan badai siklon dilakukan secara acak. Dulu, badai di Atlantik yang kekuatannya sampai menghancurkan tiang kapal diberi nama Antje. Lalu sejak pertengahan 1900-an penamaan badai menggunakan istilah feminin. Sebelum akhir 1900-an, para ahli prakiraan cuaca di Hampshire Selatan memberi nama badai dengan nama pria.
Agar sistem penamaan lebih terorganisasi dan efisien, para pakar meteorologi kemudian memutuskan mengidentifikasi badai siklon secara alphabet. Namanya diawali dengan huruf 'A', seperti Anne.
Sejak 1953, badai tropis di Atlantik sudah diberi nama menggunakan daftar yang dikeluarkan oleh Pusat Badai Nasional. Istilah yang terdaftar itu menggunakan nama perempuan. Lalu pada 1979, nama pria mulai digunakan sebagai alternatif.