Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi Digugat di Argentina Terkait Pembantaian Muslim Rohingya

Anton Suhartono ยท Kamis, 14 November 2019 - 11:31 WIB
Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi Digugat di Argentina Terkait Pembantaian Muslim Rohingya

Aung San Suu Kyi (Foto: AFP)

BUENOS AIRES, iNews.id - Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi beserta pejabat lainnya masuk dalam daftar nama yang dituntut melalui pengadilan Argentina, Rabu (13/11/2019).

Mereka dituduh melakukan kejahatan terhadap muslim Rohingya, kasus yang memaksa eksodus sekitar 1 juta etnis warga dari Negara Bagian Rakhine ke Bangladesh selama 2-4 tahun terakhir.

Gugatan di bawah prinsip 'yurisdiksi universal' ini diajukan warga Rohingya serta kelompok-kelompok hak asasi manusia Amerika Latin.

Yuridiksi universal merupakan konsep hukum yang masih diabaikan banyak negara. Untuk kasus Myanmar, ada beberapa pelanggaran, yakni kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan luar biasa yang dilakukan para pejabat Myanmar.

"Gugatan ini untuk menjatuhkan sanksi pidana terhadap pelaku, kaki tangan, dan penyembunyian genosida. Kami melakukannya di Argentina karena tidak mungkin mengajukan pengaduan pidana di tempat lain," kata pengacara Tomas Ojea, dikutip dari AFP, Kamis (14/11/2019).

Ojea mberharap surat perintah penangkapan internasional akan dikeluarkan setelah gugatan ini. Namun, kejahatan genosida tidak secara khusus dimasukkan dalam materi gugatan karena tidak termasuk dalam hukum pidana Argentina.

Pria yang juga memimpin pengungkapan kasus pembatantaian muslim Rohingya juga bertindak sebagai Pelapor Khusus PBB untuk HAM Myanmar pada periode 2008 dan 2014. Keikutsertaanya menjadi pemicu gugatan ini diajukan di Argentina.

"Saya telah melihat secara langsung penderitaan etnis Rohingya. Sudah waktunya keadilan ditegakkan," kata dia.

Selain Suu Kyi, ada pula pemimpin militer Min Aung Hlaing yang masuk dalam tuntutan. Mereka dituduh melakukan 'ancaman eksistensial' terhadap minoritas muslim Rohingya.

"Selama beberapa dekade, pihak berwenang Myanmar mencoba memusnahkan kami dengan membatasi kami di ghetto, memaksa kami melarikan diri dari negara asal dan membunuh kami," kata Tun Khin, presiden Organisasi Rohingya Burma Inggris (BROUK).

Dua kelompok HAM Argentina, yakni Grandmothers of the Plaza de Mayo dan Yayasan Perdamaian dan Keadilan (Fundacion Servicio Paz y Justicia), mendukung gugatan tersebut.

Penyelidik PBB pada tahun lalu menyebut kerasan militer di Myanmar 2017 sebagai genosida. Lebih dari 740.000 muslim Rohingya terusir dan mengungsi ke kamp-kamp di Bangladesh.

Pengadilan Argentina telah menangani kasus-kasus yurisdiksi universal lainnya, termasuk mantan diktator Francisco Franco di Spanyol dan gerakan Falun Gong di China.

Editor : Anton Suhartono