Sidang Majelis Umum PBB

Sidang Umum PBB, Ini 2 Usulan Indonesia untuk Akhiri Krisis Muslim Rohingya

Anton Suhartono ยท Kamis, 26 September 2019 - 08:11 WIB
Sidang Umum PBB, Ini 2 Usulan Indonesia untuk Akhiri Krisis Muslim Rohingya

Menlu Retno Marsudi berbicara di sela Sidang Majelis Umum PBB membahas situasi di Rakhine (Foto: Kemlu RI)

NEW YORK, iNews.id - Isu krisis kemanusiaan yang dialami muslim Rohingya di Myanmar maupun yang mengungsi di Bangladesh menjadi sorotan delegasi Indonesia di Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mendesak masyarakat internasional untuk bertindak mengakhiri krisis yang sudah berlangsung bertahun-tahun ini. Lebih dari 1,2 juta etnis Rohingya terusir dari tempat tinggal mereka di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, dan kini menempati beberapa kam pengungsian di Bangladesh. Sementara mereka yang masih menetap di Rakhine menghadapi kekerasan oleh militer.

“Situasi kemanusiaan di Rakhine State mengharuskan masyarakat internasional mengambil langkah darurat untuk menyelesaikannya," kata Retno, mengawali pandangannya di pertemuan membahas situasi terkini Rakhine State di sela Sidang Majelis Umum PBB ke-74, seperti dikutip dalam keterangan pers Kemlu RI.

Situasi kemanusiaan yang semakin memprihatinkan di Rakhine, khususnya pascagagalnya upaya pemulangan para pengungsi pada Agustus lalu membuat semakin besarnya rasa ketidakpercayaan semua elemen terhadap penyelesaian krisis ini.

"Kompleksitas isu di Rakhine State, Myanmar, tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak menemukan solusi penyelesaian krisis kemanusiaan ini," tutur perempuan yang sudah dua kali mengunjungi para pengungsi Rohingya di Cox Bazar, Bangladesh, itu.

Isu utama yang paling mengganjal adalah adanya ketidakpercayaan di semua tingkatan hingga ke lapisan masyarakat di pengungsiaan dan masyarakat internasional. Hal penting yang harus segera diciptakan adalah situasi yang kondusif agar terbangun kembali rasa saling percaya antara semua elemen yang terlibat.

Dalam pertemuan tersebut, Retno menyampaikan dua usulan konkret untuk mendorong penyelesaian krisis kemanusian, yakni mengatasi kebutuhan para pengungsi yang bersifat darurat.

Bagi Indonesia, bantuan kemanusiaan akan tetap diberikan kepada pengungsi. Selain itu rasa aman harus dijamin sehingga proses repatriasi pengungsi yang aman, sukarela, dan bermartabat segera dapat dilakukan.

Kedua, lanjut Retno, membantu menciptakan perdamaian yang berkesinambungan melalui pembangunan ekonomi dan pemberdayaan bagi masyarakat Rakhine. Fasilitas Pendidikan dan kesehatan harus diberikan. Roda perekonomian juga harus segera digerakkan. Hal lain, menumbuhkembangkan masyarakat yang toleran dan majumuk.

“Indonesia telah membangun sekolah, rumah sakit, serta pasar rakyat untuk menggerakan sektor ekonomi dan mencukupi kebutuhan kesehatan dan pendidikan masyarakat di Rakhine State," kata Retno.


Editor : Anton Suhartono