Ancam Jokowi, Ruslan Buton Dijerat Pasal Berlapis

Irfan Ma'ruf ยท Jumat, 29 Mei 2020 - 21:20 WIB
Ancam Jokowi, Ruslan Buton Dijerat Pasal Berlapis

Panglima serdadu eks Trimatra Nusantara Ruslan Buton ditangkap tim gabungan Mabes Polri dan Polda Sulawesi Tenggara (Sultra), Kamis (28/5/2020). (Foto: iNews/Andi Ebha)

JAKARTA, iNews.id – Kasus ujaran kebencian yang dilakukan pecatan TNI Angkatan Darat Ruslan Buton ditangani Bareskrim Polri. Ruslan diterbangkan dari Buton, Sulawesi Tenggara, untuk menjalani pemeriksaan dan penahanan.

Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan mengatakan, Ruslan Buton telah ditetapkan sebagai tersangka. Dia dijerat pasal berlapis atas kasus ujaran kebencian melalui surat terbuka yang ditulisnya untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Tersangka RB dapat dijerat dengan Pasal 14 ayat (1) dan (2) dan/atau Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana yang dilapis dengan Pasal 28 Ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara,” kata Ramdhan di kantor Divis Humas Mabes Polri, Jakarta, Jumat (29/5/2020).

Ramdhan menuturkan, Ruslan juga dapat dijerat Pasal 207 KUHP dengan ancaman penjara 2 tahun. Pasal 207 KUHP mengatur tentang penghinaan kepada penguasa.

Pasal tersebut berbunyi: “Barang siapa dengan sengaja di muka umum dengan lisan atau tulisan menghina suatu penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun enam bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”

Ruslan ditangkap aparat Densus 88 Antiteror Polri dan Polisi Militer Angkata Darat (Pomad) di rumahnya, Desa Wabula I, Kecamatan Wabula, Buton, Kamis (28/5/2020).

Berdasarkan video yang beredar, Ruslan tampak kooperatif saat dijemput petugas. Mengenakan kemeja ke lengan pendek warna putih dan menjinjing tas kecil, dia keluar dari rumah kayu panggung dan masuk ke mobil petugas.

Ruslan ditangkap setelah membuat surat terbuka kepada Presiden Jokowi dalam bentuk rekaman suara pada Senin (18/5/2020). Rekaman ini lantas viral di media sosial.

Dalam rekaman tersebut, pemimpin Serdadu Eks Trimatra Nusantara itu menyebut solusi terbaik untuk menyelamatkan Indonesia yaitu Jokowi rela mundur dari jabatannya sebagai presiden.

"Namun, bila tidak mundur, bukan menjadi sebuah keniscayaan akan terjadinya gelombang gerakan revolusi rakyat dari seluruh elemen masyarakat," ucap Ruslan, dalam rekaman tersebut.

Berdasarkan pemeriksaan awal, Ruslan mengakui rekaman itu. Mantan kapten infanteri di Yonif RK 732/Banau ini membuat rekaman tersebut dan mengedarkan di grup WhatsApp.

Editor : Zen Teguh