Cerita Investor Kampoeng Kurma: Sudah Lunas Rp85 Juta, Cuma Dapat Doorprize

Koran SINDO, Haryudi ยท Rabu, 13 November 2019 - 20:15 WIB
Cerita Investor Kampoeng Kurma: Sudah Lunas Rp85 Juta, Cuma Dapat Doorprize

Ratusan investor akan melaporkan PT Kampoeng Kurma atas dugaan penipuan investasi kavling tanah dan pohon kurma. Para pembeli tidak mendapatkan kejelasan atas investasi mereka. (Foto: Istimewa).

BOGOR, iNews.id - Nasib pahit dialami Mustika, warga Jatinegara, Jakarta Timur. Alih-alih mendapatkan kavling tanah dan pohon kurma, investasinya di PT Kampoeng Kurma sejauh ini hanya berbuah doorprize.

Mustika mendatangi kantor Kampoeng Kurma di Jalan Pangeran Ashogiri, Kelurahan Tanah Baru, Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (13/11/2019). Dia penasaran setelah mendengar manajemen Kampoeng Kurma akan menggelar konferensi pers setelah kasus investasi bodong perusahaan ini mencuat.

Mustika mengaku membeli kavling tanah yang ditawarkan Kampoeng Kurma di Jasinga, Kabupaten Bogor pada 2017. Pembelian dilakukan dengan cara mengangsur.

"Saya membeli Rp85 juta dengan cara dicicil dan sekarang sudah lunas. Katanya kavling tersebut akan ditanami pohon kurma, nanti ketika panen akan bagi hasil," kata Mustika ditemui di kantor Kampoeng Kurma.

Suasana kantor Kampoeng Kurma di Tanah Baru, Bogor. (Foto: Hariyudi/Koran SINDO).

Namun, harapan tinggal harapan. Jangankan pohon kurma, tanah kavling yang dijanjikan hingga saat ini masih hamparan kosong. Ironisnya, tidak ada kavling atas namanya. Begitu juga tidak ada penanda di tanah yang diklaim garapan Kampoeng Kurma tersebut.

"Kalau pun ada manfaatnya, saya sempat mendapatkan doorprize saja. Saya survei kemarin itu lahan belum diapa-apakan, masih seperti dulu," kata dia.

Tidak hanya itu, Akta Jual Beli (AJB) yang dijanjikan Kampoeng Kurma kepada investor yang telah melunasi pembelian juga tak kunjung ada. Berkali-kali ditanyakan, namun pembeli hanya diberi janji.

"Saat ditanyakan kepada manajemen Kampoeng Kurma kita disuruh bersabar saja. Saya belum lapor polisi, saya hanya memantau lewat WhastApp Group saja. Sebab kalau lapor polisi, khawatir berkepanjangan dan uang yang sudah saya keluarkan tak kembali," tuturnya.

Kasus investasi bodong Kampoeng Kurma heboh setelah diungkap Irvan Nasrun, salah satu pembeli. Irvan bersama sejumlah investor lain akan melaporkan perusahaan investasi perkebunan ini ke polisi karena tak menunjukkan itikad baik soal pengembalian dana (refund) investor.

Irvan mengaku telah berinvestasi Rp417 juta untuk 7 kavling tanah. Namun, hingga kini AJB tanpa kejelasan. Saat menuntut refund, investor juga hanya dijanjikan semata.

Irvan tak gentar ketika mendapatkan informasi Kampoeng Kurma bakal melaporkannya ke Polres Bogor atas dugaan pencemaran nama baik. Dia bakal tetap memperjuangkan hak-haknya.

"Ya silakan saja. Saya ingin tahu apa yang akan dilaporkannya. Itu kan Grup WhatsApp tertutup, di dalam grup tidak ada Arfah (Arfah Husaifah, direktur utama Kampoeng Kurma)," ujarnya, Rabu (13/11/2019).

Tim kuasa hukum Kampoeng Kurma menggelar konferensi pers di kantor Kampoeng Kurma, Bogor, Rabu (13/11/2019). (Foto: Haryudi).

Sebelumnya, Kampoeng Kurma mengancam melaporkan Irvan ke polisi. Irvan dianggap mencemarkan nama baik perusahaan itu melalui pernyataan tendensius dan provokatif di grup WhatsApp.

"Saudara Irvan Nasrun telah mencemarkan nama baik klien kami dengan menuduh dan menyebarluaskan perkataan sebagai 'penipu' kepada klien kami bapak Arfah Husaifah. Padahal belum ada satupun keputusan pengadilan yang memvonis klien kami sebagai penipu," kata Kuasa Hukum Kampoeng Kurma Nusyirwan dalam konferensi pers, Rabu (13/11/2019).

Untuk diketahui, investasi Kampoeng Kurma telah masuk daftar ilegal oleh Satuan Tugas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan pada April 2019. Kegiatan ini telah dilaporkan ke Bareskrim Polri dan Kemenkominfo.

”Kami mengimbau masyarakat untuk berhati-hati. Adapun terhadap mereka yang dirugikan, kami sarankan untuk melapor ke penegak hukum,” kata Kepala Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing, saat dihubungi, Senin (11/11/2019).

Editor : Zen Teguh