Djoko Tjandra Diduga Suap Jenderal Polisi, Mahfud MD: Hukuman Penjara Jauh Lebih Lama

Riezky Maulana ยท Sabtu, 01 Agustus 2020 - 09:59 WIB
Djoko Tjandra Diduga Suap Jenderal Polisi, Mahfud MD: Hukuman Penjara Jauh Lebih Lama

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD (tengah. (Foto: iNews.id/Riezky Maulana)

JAKARTA, iNews.id - Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menilai buron kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra tak hanya dihukum dua tahun melainkan dapat lebih lama. Hal itu terkait kasus baru dugaan penyuapan terhadap jenderal polisi terkait surat surat jalan.

Mahfud menyampaikan hal itu dalam akun twitter pribadinya @mohmahfud, Sabtu (1/8/2020). Sebelumnya dalam perkara hak tagih Bank Bali pada 10 Juni 2008, Majelis hakim Mahkamah Agung (MA) memvonis Djoko Tjandra dua tahun penjara dan harus membayar denda Rp15 juta.

"Djoko Tjandra tidak hanya harus menghuni penjara 2 tahun karena tingkahnya, dia bisa diberi hukuman-hukuman baru yang jauh lebih lama," ujarnya.

Mahfud memaparkan, setidaknya ada dua dugaan pelanggaran yang dilakukan buronan 11 tahun tersebut, antara lain penggunaan surat palsu dan penyuapan. Menurut dia, Djoko Tjandra diduga turut menyuap para oknum-oknum pejabat yang melindunginya selama masa pelarian.

"Dugaan pidananya, antara lain, penggunaan surat palsu dan penyuapan kepada pejabat yang melindunginya. Pejabat-pejabat yang melindunginya pun harus siap dipidanakan. Kita harus kawal ini," katanya.

Suap, Mahfud menuturkan, merupakan salah satu dari tujuh kategori tindak pidana korupsi, mulai dari, gratifikasi hinga pemerasan. Dia menegaskan, jika Djoko Tjandra diduga melakukan suap, maka juga dapat diduga sebagai koruptor.

"Bagi yang nanya, penyuapan itu bagian dari korupsi. Korupsi mencakup tujuh jenis tindak lancung, misalnya, gratifikasi, penggelapan jabatan, mencuri uang negara dengan mark up atau mark down dana proyek, pemerasan dan sebagainya. Jadi jika Djoko Tjandra itu diduga menyuap, artinya dia diduga korupsi," tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, Djoko Tjandra resmi menjadi warga binaan pemasyarakatan tahanan Rutan Salemba cabang Bareskrim Polri. Djoko Tjandra harus mengikuti setiap protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

Penempatan Djoko Tjandra di Rutan Salemba cabang Bareskrim Polri, untuk kepentingan pemeriksaan lanjutan. "Djoko Tjandra menjadi narapidana dan menjadi warga binaan Pemasyarakatan. Yang bersangkutan kami tetapkan Salemba di Mabes Polri di cabang ini, dalam rangka memberikan pemeriksaan selanjutnya dan protokol kesehatan," kata Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) Kemenkumham Reinhard Silitonga, di Bareskrim Mabes Polri, Jumat (31/7/2020).

Kabareskrim Polri, Komjen Listyo Sigit menuturkan, penahanan Djoko Tjandra di Rutan Salemba cabang Bareskrim Polri lantaran pihaknya masih membutuhkan keterangan sang narapidana dalam sejumlah kasus. "Kepentingan kami untuk lakukan pemeriksaan terkait kasus-kasus yang terjadi, yaitu terkait keluar masuknya Djoko Tjandra," kata Listyo.

Editor : Djibril Muhammad