Kasus Suap Miftahul Ulum, Anggaran Satlak Prima Dipotong 15-20 Persen untuk Operasional Imam Nahrawi

Antara ยท Kamis, 13 Februari 2020 - 22:52 WIB
Kasus Suap Miftahul Ulum, Anggaran Satlak Prima Dipotong 15-20 Persen untuk Operasional Imam Nahrawi

Sesmenpora Gatot S Dewa Broto (kanan) jadi saksi Miftahul Ulum (kedua kiri) pada sidang lanjutan kasus suap penyaluran pembiayaan skema bantuan pemerintah melalui Kemenpora kepada KONI di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (13/2/2020). (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Fakta mengejutkan terungkap di sidang perkara suap dan gratifikasi dengan terdakwa asisten pribadi mantan Menpora Imam Nahrawi, Miftahul Ulum. Fakta itu terkait pemotongan 15-20 persen anggaran Satlak Prima untuk operasional Imam Nahrawi.

Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot S Dewa Broto menyebut, pemotongan sebesar 15-20 persen itu diambil dari setiap cabang olahraga (cabor). Pemotongan itu, diketahui dari data Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) usai sembilan pejabat Kemenpora dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) terjaring OTT KPK.

Pada akhir 2018, Gatot menceritakan, BPK memanggil Imam Nahrowi, KONI dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI). "Ada paparan intinya Pak Deputi BPK Achsanul Qosasih mengatakan ada data BPK dari setiap cabang olahraga ada pemotongan 15-20 persen, itu disaksikan semua pimpinan cabang olahraga, Pak Menteri, KONI, dan KOI," katanya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (13/2/2020).

Gatot bersaksi untuk asisten pribadi Menpora, Miftahul Ulum bersama Imam Nahrawi yang didakwa menerima suap dengan total Rp11,5 miliar dan gratifikasi berupa uang mencapai Rp8,648 miliar.

"Memang ada rumor untuk staf-staf khusus ada jatah pembagian uang dari kegiatan-kegiatan di Kemenpora. Misalnya Taufik Hidayat, staf khusus sebagai Wakil Ketua Satlak Prima sejak 2015-2017 ditugaskan untuk mengumpulkan uang dari Deputi III dan IV Kemenpora," ujarnya.

Gatot menceritakan, Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) merupakan program pemerintah untuk menciptakan atlet andalan nasional yang mampu berprestasi di tingkat internasional.

"Yang bertugas untuk memotong uang adalah Tommy Suhartanto (Direktur Perencanaan dan Anggaran Program Satlak Prima), tapi untuk detailnya saya tidak tahu," katanya.

Terdakwa asisten mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Miftahul Ulum (kedua kiri) mendengarkan kesaksian dari Sesmenpora Gatot S. Dewa Broto (kanan) di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (13/2/2020). (Foto: Antara)
Terdakwa asisten mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Miftahul Ulum (kedua kiri) mendengarkan kesaksian dari Sesmenpora Gatot S. Dewa Broto (kanan) di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (13/2/2020). (Foto: Antara)

Gatot tidak tahu berapa jumlah 15-20 persen yang dipotong dari tiap cabor. "Pak Achsanul tidak mengatakan besaran yang dipotong tapi mengatakan memberikan perhatian agar pimpinan Kemenpora tidak melakukan pembiaran atas pemotongan-pemotongan seperti itu," ujarnya.

Staf Ahli Bidang Kerjasama Kelembagaan Kemenpora Chandra Bakti yang juga dihadirkan sebagai saksi membenarkan pemotongan 20 persen dari anggaran Satlak Prima. "Iya ada pemotongan, saya harus kolektif menyerahkannya. Pemotongan lalu diserahkan ke Tommy, menurut Tommy itu untuk operasional ke Pak Menteri," kata Chandra.

Dalam dakwaan disebutkan Miftahul Ulum menerima gratifikasi sejumlah Rp1 miliar dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Program Satlak Prima Kemenpora 2016-2017 Edward Taufan Pandjaitan alias Ucok.

Tommy menyampaikan kepada Ucok ada permintaan uang dari Imam Nahrawi, lalu Tommy meminta disiapkan uang Rp1 miliar untuk diserahkan kepada Imam melalui Ulum.

Reike Mamesah menyerahkan uang tersebut kepada Taufik Hidayat di rumahnya Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Agustus 2018. Taufik kemudian menyerahkan uang tersebut kepada Ulum untuk diberikan kepada Imam.

Editor : Djibril Muhammad