Kasus Suap Perkara di MA, KPK Panggil Adik Ipar Nurhadi dan Dua Hakim

Antara, Ariedwi Satrio ยท Selasa, 04 Agustus 2020 - 11:48:00 WIB
Kasus Suap Perkara di MA, KPK Panggil Adik Ipar Nurhadi dan Dua Hakim
Nurhadi, tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait penanganan perkara di MA pada tahun 2011-2016. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil adik ipar mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi (NHD), Rahmat Santoso. Rahmat yang berprofesi sebagai advokat diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait perkara di MA pada tahun 2011-2016.

"Dipanggil sebagai saksi untuk tersangka NHD," kata Pelaksana Tugas (Plt) Juru Bicara KPK Ali Fikri saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (4/8/2020).

Selain Rahmat, KPK juga memanggil enam saksi lainnya untuk Nurhadi. Dua di antaranya Hakim Agung di MA yakni Panji Widagdo dan Sudrajad Dimyati.

Sedangkan empat saksi lainnya yakni Onggang selaku pengacara, Syamsul Maarif yang berprofesi sebagai dosen, karyawan swasta Calvin Pratama dan wiraswasta Yoga Dwi Hartiar.

Diketahui, saksi Rahmat sebelumnya pernah diperiksa KPK pada Rabu, 4 Maret 2020 sebagai saksi untuk tersangka Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto (HS). Saat itu, Rahmat dicecar soal aliran uang yang diterima Nurhadi dalam kasus tersebut.

KPK juga sempat menggeledah kantor advokat Rahmat Santoso and Partner di Surabaya pada Selasa 25 Februari 2020. Kala itu, tim KPK mengamankan beberapa dokumen dan alat komunikasi yang terkait dengan kasus tersebut.

KPK memanggil adik ipar Nurhadi, Rahmat Santoso terkait kasus dugaan suap dan gratifikasi penanganan perkara di MA 2011-2016. (Foto: Antara)
KPK memanggil adik ipar Nurhadi, Rahmat Santoso terkait kasus dugaan suap dan gratifikasi penanganan perkara di MA 2011-2016. (Foto: Antara)

KPK telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka terkait dengan kasus tersebut pada tanggal 16 Desember 2019. Selain Nurhadi dan Hiendra, KPK juga telah menetapkan Rezky Herbiyono (RHE), menantu Nurhadi atau swasta sebagai tersangka.

Diketahui, tiga tersangka tersebut telah dimasukkan dalam status daftar pencarian orang (DPO) sejak Februari 2020. Untuk tersangka Nurhadi dan Rezky, telah ditangkap tim KPK di Jakarta Selatan, Senin, 1 Juni 2020. Sementara itu, tersangka Hiendra saat ini masih menjadi buronan.

Nurhadi dan Rezky ditetapkan sebagai tersangka penerima suap dan gratifikasi senilai Rp46 miliar terkait dengan pengurusan sejumlah perkara di MA, sedangkan Hiendra ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap.

Penerimaan suap diduga terkait dengan pengurusan perkara perdata PT MIT vs PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero) kurang lebih sebesar Rp14 miliar, perkara perdata sengketa saham di PT MIT kurang lebih sebesar Rp33,1 miliar, dan gratifikasi terkait perkara di pengadilan kurang lebih Rp12,9 miliar.

Dengan demikian, akumulasi yang diduga diterima kurang lebih sebesar Rp46 miliar.

Editor : Djibril Muhammad