Mundurnya Perry Warjiyo dan Tiga Risiko yang Tidak Boleh Diremehkan
Perusahaan juga dapat mempercepat pembelian valuta asing untuk mengamankan kebutuhan impor dan pembayaran utang. Perilaku ini dapat menambah permintaan dolar dan memperlemah rupiah, bahkan sebelum terjadi perubahan fundamental dalam perekonomian.
Pelemahan rupiah bukan hanya persoalan layar perdagangan. Indonesia masih mengimpor minyak, bahan baku industri, mesin, obat-obatan, pangan tertentu, dan berbagai komponen produksi. Ketika dolar semakin mahal, biaya tersebut masuk ke harga barang, ongkos transportasi, biaya produksi, dan tarif layanan.
Rumah tangga miskin dan kelas menengah akan menerima dampak paling besar karena sebagian besar pendapatan mereka digunakan untuk konsumsi harian. Pelaku usaha mikro dan kecil juga lebih rentan karena tidak memiliki fasilitas lindung nilai seperti perusahaan besar. Sementara eksportir tertentu mungkin memperoleh tambahan penerimaan dalam rupiah, manfaat tersebut tidak selalu menyebar secara merata dan dapat tergerus oleh kenaikan biaya bahan baku impor.
Premi Risiko Berpindah ke APBN dan Masyarakat
Dampak kedua adalah meningkatnya biaya pembiayaan. Pemerintah Indonesia membutuhkan pasar surat utang yang stabil untuk membiayai defisit, membayar utang jatuh tempo, dan menjalankan program pembangunan.
Investor yang meragukan arah kebijakan moneter akan meminta imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko kurs dan ketidakpastian kelembagaan.