Dia lalu mendapatkan inspirasi berbekal riset tersebut. Serat alam yang terkandung dalam eceng gondok ternyata kerap diolah menjadi kerajinan tangan dengan teknik anyaman tradisional. Dia mendapati sejumlah komunitas lokal menggunakan eceng gondok sebagai bahan dasar pembuatan tikar, tas, hingga beberapa produk rumah tangga.
"Kelebihannya adalah eceng gondok ini ketika dia hidup, dia bisa dirobek. Tapi kalau sudah kering, gak bisa dirobek," tutur Thio.
Merasa menemukan jati dirinya kembali, Thio mulai memproduksi berbagai produk anyaman berbahan serat alam eceng gondok. Tas, keranjang, hingga hiasan dinding dibuat. Thio merasakan lonjakan semangat ketika melihat sejumlah karyanya mulai terkumpul.
Hanya saja, Thio tak cepat puas. Dia ingin karyanya berdampak lebih luas. Idenya membangun Craftote Gallery & Coffee terbesit sepulang dari Abhimata Mitrasamaya, panti asuhan yang biasa dibantunya di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Saat itu, sang pemilik panti asuhan bertanya ke Thio soal peluang karier untuk anak asuhnya yang telah lulus sekolah.
"Kita kenal dengan ibu pantinya, karena sering ketemu ya seperti jadi kayak teman gitu. Lalu lama-kelamaan dia bilang gini, 'Pak Thio, anak-anak ada yang lulus, ada tiga anak, ada kerjaan gak buat mereka?' Saya bilang, 'Wah, gak ada,' gitu kan," tutur dia.