Namun, dia mulai menemukan kendala. Bisnisnya berkembang terlalu cepat tanpa terencana dengan matang hingga justru membuat keuangan bocor dan sistem operasional berantakan. Hingga sampai suatu saat, Thio terpaksa menutup dua kedai barunya itu.
"Kayaknya ada yang salah nih, karena kita kan gak digaji. Waktu itu keuangan kita masih kacau. (Saya dan istri) duduk bareng-bareng coba periksa, di situlah kita sadar, boncos, habis berapa ratus juta gitu gak kecatat," kata Thio.
Keputusan untuk menutup dua gerai dan kembali fokus pada inti usaha menjadi titik balik Thio. Craftote lalu membenahi sistem, memperkuat posisi produk kerajinan, dan kembali memanfaatkan jejaring yang terbentuk lewat Rumah BUMN BRI. Dari sana, pintu ke panggung yang lebih besar mulai terbuka.
Jejaring dan pelatihan yang diterima Craftote tidak berhenti di level lokal. Melalui berbagai program yang diikuti bersama BRI, Thio mulai bertemu dengan pembeli, komunitas usaha, hingga lembaga pemerintah. Kesempatan itu kemudian membawanya pada pasar ekspor.
Thio mengungkapkan produk kerajinan tangan Craftote kini telah dipasarkan ke sejumlah negara, antara lain Kanada, Australia, Jepang, dan yang terbaru Inggris. Dia telah mengirim produk beberapa kali dengan buyer yang sama di pasar Kanada.