Pertama kalinya, pengeluaran militer global tembus Rp28.794 triliun. Foto: Reuters
Dinar Fitra Maghiszha

STOCKHOLM, iNews.id - Pengeluaran militer global telah melampaui 2 triliun dolar AS atau setara Rp28.794 triliun per tahun untuk pertama kalinya. Angka itu diperkirakan akan terus meningkat karena negara-negara Eropa meningkatkan angkatan bersenjata mereka dalam menanggapi invasi Rusia ke Ukraina

Pada 2021, menurut laporan yang dirilis Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), negara-negara Eropa menghabiskan total 2.133 miliar dolar AS untuk militer mereka. Jumlah ini naik 0,7 persen secara riil dari tahun sebelumnya. 

Setelah periode penurunan pengeluaran militer yang singkat antara 2011-2014, pengeluaran meningkat selama 7 tahun berturut-turut. Setelah invasi ke Ukraina, beberapa pemerintah Eropa telah menjanjikan perbaikan pengeluaran untuk meningkatkan pasukan mereka. 

"Eropa sudah dalam tren (pengeluaran militer) yang meningkat, dan tren ini akan semakin cepat dan intensif," kata Direktur Program Pengeluaran Militer dan Produksi Senjata SIPRI Lucie Beraud-Sudreau, dikutip dari Bloomberg, Senin (25/4/2022). 

"Biasanya perubahan terjadi secara perlahan sampai Anda berada dalam krisis dan kemudian perubahan benar-benar terjadi. Saya pikir di situlah kita sekarang," imbuhnya. 

Adapun peningkatan pengeluaran sejak 2015 sebagian didorong pengeluaran yang lebih tinggi di Eropa, setelah pencaplokan Krimea oleh Rusia pada 2014. Itu meningkatkan tingkat ancaman yang dirasakan pada saat yang sama ketika pemerintahan AS di bawah Donald Trump meningkatkan tekanan pada sekutu NATO untuk membelanjakan lebih banyak uangnya untuk militer mereka.

Pengeluaran negara-negara Eropa pada 2021 menyumbang 20 persen ​​dari total pengeluaran militer global. Sementara anggaran pertahanan China, yang terbesar kedua di dunia, diperkirakan mencapai 14 persen.

AS sejauh ini tetap menjadi pembelanja terbesar, dengan 801 miliar dolar AS dialokasikan untuk angkatan bersenjata pada 2021, menurut SIPRI. Dalam dekade terakhir, pengeluaran militer AS telah mencapai 39 persen dari pengeluaran global. 

Sementara itu, pembelian senjata AS telah menurun karena lebih banyak dana dikhususkan untuk penelitian dan pengembangan militer. Menurut peneliti SIPRI Alexandra Marksteiner, ini menunjukkan AS lebih fokus pada teknologi generasi berikutnya.

Karena negara-negara Eropa dari Swedia hingga Spanyol telah berjanji meningkatkan anggaran pertahanan, kata Beraud-Sudreau, indikasi awal adalah modernisasi dan peningkatan sistem senjata akan menjadi prioritas utama. Dalam melakukannya, mereka menghadapi pilihan apakah akan memprioritaskan pembangunan cepat dengan membeli peralatan dari produsen senjata di bagian lain dunia, atau mengambil pendekatan jangka panjang dengan meningkatkan pendanaan untuk industri dalam negeri.

Namun, pembelian senjata bukan satu-satunya persyaratan yang disoroti oleh invasi Rusia.

"Anda melihat banyak tantangan pasukan Rusia terkait dengan hal-hal seperti logistik, bahan bakar, ban, dan komunikasi yang aman. Membeli barang itu mungkin kurang terlihat, tetapi situasi di Ukraina telah menunjukkan kepada pengamat eksternal betapa pentingnya hal itu untuk berperang," tuturnya. 


Editor : Jujuk Ernawati

BERITA TERKAIT