"Dan ini udah diteliti serius. Kadar kortisol dan hormon stres kita turun signifikan selama berada di antara pohon. Penelitian lain nujukin, aktivitas sel imun pembunuh alami naik lebih dari 50 persen setelah satu pekan dan efeknya bisa bertahan lebih dari 30 hari. Di Jepang, praktik ini punya nama sendiri: Shinrin-yoku, dan diakui sebagai bagian dari kesehatan preventif," ujarnya.
Shinrin-yoku atau forest bathing merupakan praktik menghabiskan waktu di lingkungan hutan dengan menikmati suasana alami melalui berbagai indra. Aktivitas tersebut tidak terbatas pada memeluk pohon, tetapi juga dapat berupa berjalan santai, menghirup udara, serta menikmati suara dan suasana pepohonan.
Di sisi lain, keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) menjadi penting bagi masyarakat perkotaan yang memiliki akses terbatas terhadap lingkungan alami. Bang Sap menyoroti kondisi RTH di Jakarta yang menurut dia masih jauh dari target.
"Masalahnya, pohonnya udah makin susah dicari. Ruang Terbuka Hijau di Jakarta aja baru 5,6 persen. Jauh dari target 30 persen yang harusnya dicapai paling lambat 2045. Ruang hijau yang cuma ada di perumahan elit itu bukan solusi lingkungan. Itu fasilitas premium yang kebetulan warnanya hijau," kata Bang Sap.
Dia pun mengajak masyarakat untuk menjaga keberadaan pohon dan ruang terbuka hijau. Menurutnya, pohon bukan hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga dapat menjadi bagian dari lingkungan yang mendukung kualitas hidup masyarakat.
"Jangan-jangan, yang perlu kita selamatkan duluan bukan dompet kita, tapi pohonnya, biar nanti masih ada yang bisa kita peluk," ujarnya.