Dari sisi pemerintah, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Lucia Rizka Andalusia, mengatakan penguatan ekosistem plasma membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk layanan kesehatan, layanan darah dan plasma, komunitas pasien, donor serta industri.
"Penguatan ekosistem plasma Indonesia dapat terwujud melalui kolaborasi antara pemerintah, institusi kesehatan, layanan darah dan plasma, komunitas pasien, donor, dan industri," ujar Lucia.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Siti Nadia Tarmizi menambahkan bahwa pemahaman masyarakat mengenai plasma juga perlu diperkuat karena kontribusi donor memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan pasien.
"Produk Obat Derivat Plasma (PODP) dapat berperan penting dalam perawatan berkelanjutan bagi pasien dengan kondisi seperti hemofilia dan imunodefisiensi primer," kata Nadia.
Upaya meningkatkan pemahaman mengenai plasma dan donasi tersebut menjadi salah satu fokus International Plasma Awareness Week 2026 yang berlangsung pada 5-9 Oktober 2026 dengan tema 'Plasma Powers Possibility'.