Selain faktor keturunan, tekanan psikologis juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. Beban yang dirasakan sejak masa sekolah hingga memasuki dunia kerja dapat membuat seseorang mengalami stres berkepanjangan.
"Yang kedua karena gaya hidup. Pada anak muda ini kan tekanannya berat. Mereka terbiasa dengan konsentrasi karena dulu sekolah kita dari jam berapa? Jam 07.00 sampai jam 01.00. Jadi sudah capek sekolah, les, beban sekolah, dimarahin. Terus sampai kerja, dimarahin lagi, lembur lagi, belum standar sosial, itu akhirnya membuat gaya hidupnya menjadi tekanan psikologis kerja naik. Tekanan psikologis kerja naik, stres, itu akan meningkatkan risiko dari hipertensi, karena kortisolnya naik," ucap dr. Tirta.
Namun, stres bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan. Kebiasaan tidur tidak teratur, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat serta konsumsi rokok juga dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.
"Pola tidur berantakan, makan makanan karbo terlalu banyak, enggak pernah olahraga, terus habis itu dia ngerokok, ditambah ngerokok dan kopi. Kopi tok aman. Nah, kopi dikombinasi rokok, naik tuh simpatis. Dua kombinasi ini membuat tekanan anak-anak muda ini menjadi tekanan darahnya di atas rata-rata," katanya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut hipertensi pada orang dewasa secara klinis ditetapkan pada tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan/atau diastolik 90 mmHg atau lebih, yang terukur pada dua hari berbeda. Hipertensi juga sering tidak menimbulkan gejala sehingga pemeriksaan tekanan darah menjadi cara penting untuk mengetahuinya.