Jangan Paksa Selalu Bahagia, Afirmasi Positif yang Tidak Realistis Justru Bisa Picu Stres!

Niko Prayoga
Ilustrasi bahagia akibat afirmasi positif. (Foto: Ilustrasi AI)

Misalnya, seseorang sedang menghadapi kegagalan atau masalah berat, tetapi terus memaksakan diri untuk mengatakan bahwa dirinya selalu bahagia dan tidak pernah merasa sedih. Ketidaksesuaian antara kondisi yang dialami dengan kalimat yang dipaksakan tersebut berpotensi menimbulkan tekanan tambahan.

Karena itu, berpikir positif bukan berarti harus menyangkal emosi negatif. Merasa sedih, kecewa, takut, atau khawatir merupakan bagian dari pengalaman manusia yang tidak perlu selalu ditutupi dengan kalimat-kalimat penyemangat.

Afirmasi yang lebih realistis dapat dimulai dengan menerima kondisi saat ini sekaligus memberikan ruang bagi diri sendiri untuk berkembang. Contohnya, daripada memaksakan kalimat bahwa semua hal pasti berjalan sempurna, seseorang bisa mengatakan bahwa dirinya sedang menghadapi kesulitan, tetapi masih memiliki kesempatan untuk belajar dan memperbaikinya.

Dengan begitu, afirmasi positif tidak digunakan untuk menyangkal kenyataan, melainkan membantu seseorang menghadapi keadaan dengan sudut pandang yang lebih konstruktif.

Editor : Muhammad Sukardi
Artikel Terkait
4 hari lalu

7 Juta Orang Indonesia Terindikasi Gangguan Mental, Ini Masalah Terbanyak!

20 hari lalu

Warning! Medsos Terbukti Bisa Memicu Gangguan Mental pada Anak Muda

23 hari lalu

5 Bahaya Penggunaan Gawai Berlebih pada Anak, dari Obesitas hingga Gangguan Mental

4 hari lalu

Meutya Hafid Sebut Profesi Wartawan Rentan Alami Gangguan Jiwa

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal