Misalnya, seseorang sedang menghadapi kegagalan atau masalah berat, tetapi terus memaksakan diri untuk mengatakan bahwa dirinya selalu bahagia dan tidak pernah merasa sedih. Ketidaksesuaian antara kondisi yang dialami dengan kalimat yang dipaksakan tersebut berpotensi menimbulkan tekanan tambahan.
Karena itu, berpikir positif bukan berarti harus menyangkal emosi negatif. Merasa sedih, kecewa, takut, atau khawatir merupakan bagian dari pengalaman manusia yang tidak perlu selalu ditutupi dengan kalimat-kalimat penyemangat.
Afirmasi yang lebih realistis dapat dimulai dengan menerima kondisi saat ini sekaligus memberikan ruang bagi diri sendiri untuk berkembang. Contohnya, daripada memaksakan kalimat bahwa semua hal pasti berjalan sempurna, seseorang bisa mengatakan bahwa dirinya sedang menghadapi kesulitan, tetapi masih memiliki kesempatan untuk belajar dan memperbaikinya.
Dengan begitu, afirmasi positif tidak digunakan untuk menyangkal kenyataan, melainkan membantu seseorang menghadapi keadaan dengan sudut pandang yang lebih konstruktif.