“Ini kol 100 gram cuma 24 kalori. Aslinya sayurnya kan kayak gini, udah murah, sehat lagi. Tapi kalau digoreng kayak begini, kol goreng ini digorengnya pakai apa? Pakai minyak jelatah! Minyaknya udah hitam, butek lagi, dipakainya berulang-ulang,” ujar Budi.
Dia menyoroti penggunaan minyak goreng berulang kali hingga berubah warna menjadi gelap dan keruh. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pemanasan minyak secara berulang dapat memicu pembentukan senyawa hasil oksidasi yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Selain itu, proses penggorengan dapat menambah kandungan kalori pada kol, terutama karena minyak yang terserap selama proses memasak. Hal ini berbeda dengan kol segar yang secara alami memiliki kandungan kalori rendah.
Budi juga mengingatkan bahwa kol mengandung senyawa alami yang berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan, termasuk senyawa yang diteliti terkait aktivitas antikanker. Namun, manfaat tersebut perlu dilihat berdasarkan kandungan zat gizi dan cara pengolahannya.
“Padahal kol yang normal ini punya senyawa antikanker. Kalau dia digoreng, malah jadi pemicu kanker. Jadi, kalau kalian pengin makan yang murah, enak, dan sehat, ambil sayurnya yang mentah aja sebagai lalapan,” ucap Budi.