"Penilaian pangan tidak bisa hanya dilihat dari tingkat pengolahannya. Yang lebih penting adalah kandungan zat gizi, keamanan, serta bagaimana pangan tersebut dikonsumsi dalam pola makan yang seimbang," jelasnya.
Di sisi lain, bukan berarti masyarakat dapat mengabaikan kandungan pangan hanya karena tidak semua UPF memiliki karakteristik yang sama. Kandungan gula, garam, lemak jenuh, protein, vitamin, dan mineral tetap perlu diperhatikan.
Jumlah dan frekuensi konsumsi juga menjadi bagian penting. Produk dengan kandungan gula, garam, atau lemak jenuh tinggi yang dikonsumsi secara berlebihan tentu memiliki pertimbangan yang berbeda dengan pangan yang diformulasikan untuk memenuhi kebutuhan gizi tertentu.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak hanya bertanya apakah suatu produk termasuk ultra-processed food atau bukan. Informasi mengenai kandungan gizi, komposisi, tujuan pengolahan, keamanan, serta jumlah konsumsi juga perlu diperhatikan.
Untuk pangan olahan terkemas, konsumen dapat menerapkan prinsip Cek KLIK dari BPOM, yakni mengecek Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa. Informasi komposisi dan nilai gizi pada label dapat membantu masyarakat memahami kandungan produk sebelum mengonsumsinya.
Pada akhirnya, semakin sedikit diproses tidak otomatis berarti semakin sehat. Sebaliknya, semakin banyak diproses juga tidak otomatis membuat suatu pangan menjadi buruk.
Kualitas pangan perlu dilihat berdasarkan berbagai aspek, mulai dari proses dan tujuan pengolahan, kandungan gizi, keamanan, formulasi, hingga jumlah dan frekuensi konsumsi dalam pola makan sehari-hari.