"Satu kali kurang tidur, itu tak masalah. Tapi, terus menerus gangguan tidur, kurang tidur, akan menyebabkan dampak yang negatif bagi kesehatan tubuh," katanya.
Gangguan tidur yang berlangsung terus-menerus, lanjut dr. Oktaviana, dapat meningkatkan stres dan hormon kortisol. Kondisi tersebut juga dapat berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif dan memori yang pada akhirnya mengganggu aktivitas sehari-hari.
Gaya hidup masyarakat urban menjadi salah satu tantangan. Waktu tidur yang minim, penggunaan gadget berlebihan serta tekanan pekerjaan membuat banyak orang terbiasa menganggap rasa lelah, sulit fokus atau mudah lupa sebagai konsekuensi biasa dari kesibukan.
Padahal, keluhan tersebut bisa menjadi tanda bahwa kualitas tidur dan kesehatan otak perlu mendapat perhatian lebih.
Salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan untuk melihat aktivitas otak adalah quantitative electroencephalography (qEEG) atau brain mapping. Pemeriksaan ini memetakan aktivitas gelombang otak sehingga dokter dapat memperoleh gambaran mengenai pola yang berkaitan dengan gangguan tidur, stres maupun risiko penurunan fungsi kognitif.