Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa unggahan di media sosial tidak seharusnya dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan. Foto, video, dan cerita yang beredar di internet hanya memperlihatkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan proses yang dijalaninya.
Karena itu, anak muda perlu memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan, kondisi ekonomi, kesempatan, dan tantangan yang berbeda. Pencapaian orang lain tidak otomatis menjadi ukuran kegagalan diri sendiri.
Menurut Imran, kematangan berpikir menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika membahas pengaruh media sosial terhadap remaja. Pada masa pertumbuhan, kemampuan seseorang untuk menilai informasi dan membedakan gambaran ideal dengan kenyataan masih berkembang.
"Nah, kemudian saya kira itu juga kami perlu melihat bagaimana maturitas seseorang untuk bisa menerima apakah ini kenyataan ataukah ini hanya sebuah ilusi, nah itu butuh kematangan berpikir. Dari referensi-referensi studi yang sudah dilakukan, memang otak itu sebetulnya mature pada usia sekitar 20-an. Jadi kalau sebelum umur 20 ya, otak ini masih berkembang sehingga kalau ada sesuatu hal, otak itu mencernanya belum tahu secara benar nih, apakah itu kenyataan atau suatu impian," jelas Imran.
Penjelasan tersebut menekankan pentingnya mendampingi remaja agar tidak langsung menerima gambaran kehidupan di media sosial sebagai standar yang harus mereka capai.