"Nah, kemudian internet itu kan sebetulnya dia mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Jadi dia akan melihat apa sih yang terjadi di seberang sana, misalnya idolanya seperti apa, kesuksesannya seperti apa? Padahal sebetulnya yang muncul di internet itu kan lebih ke arah hanya hasilnya saja," kata Imran saat diwawancarai iNews.id di Kantor Kemenkes, Jakarta, Minggu (11/10/2026).
"Tetapi apakah real kehidupannya seperti itu? Mereka juga tidak tahu bagaimana perjuangannya ke sana, berapa lama dia harus bekerja, itu yang membuat orang hanya melihat hasilnya saja," sambungnya.
Imran menilai, kebiasaan membandingkan pencapaian pribadi dengan unggahan orang lain dapat menimbulkan kecemasan. Terlebih, media sosial juga kerap digunakan untuk memasarkan gaya hidup tertentu yang belum tentu mencerminkan kondisi nyata seseorang.
Dia mencontohkan, seseorang bisa merasa tertinggal ketika melihat orang lain seusianya mampu membeli mobil mewah, sementara dirinya masih menggunakan sepeda motor.
"Itulah yang membuat orang jadi cemas kan, 'Lho, pada umurku ini dia kok sudah bisa beli Porsche,' gitu kan, 'Saya kok masih naik motor?' Nah, sehingga dia membandingkan dengan orang lain sebelumnya. Jadi memang upaya-upaya itu kan dari marketing pihak-pihak tertentu yang menjual lifestyle sebetulnya," tutur dia.