Karena itu, dukungan emosional dan rasa syukur tetap dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesejahteraan diri, tetapi keduanya tidak menggantikan penanganan medis ketika gangguan kesehatan mental sudah memerlukan pengobatan.
"Kemudian juga yang sering terjadi adalah bagaimana mereka tuh menerima stres. Nah, kadarnya orang menerima stresor itu juga tidak sama, sehingga ya oke, bersyukur memang penting, tetapi kalau sudah pada taraf yang dia memang butuh pengobatan, ya dia harus diobati. Kalau enggak, dia akan terus turun dan terus kondisinya tambah jelek," ungkap Imran.
Data program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga Juli 2026 mencatat sebanyak 186.629 orang dewasa dan lansia mengalami depresi. Sementara itu, pada kelompok anak usia sekolah dan remaja, jumlahnya mencapai 34.961 orang.
Data tersebut menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental lintas kelompok usia, termasuk anak dan remaja. Namun, angka tersebut merupakan hasil yang tercatat melalui program CKG dan tidak dengan sendirinya menggambarkan prevalensi depresi pada seluruh populasi Indonesia.
Imran mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan perubahan kondisi emosional yang dirasakan, terutama jika keluhan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan dini dapat membantu mengidentifikasi tanda-tanda masalah kesehatan mental sehingga seseorang bisa memperoleh bantuan yang sesuai.