Risiko osteoporosis juga menjadi perhatian dunia. Data International Osteoporosis Foundation (IOF) mencatat satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki berusia 50 tahun ke atas diperkirakan mengalami patah tulang akibat osteoporosis sepanjang hidup mereka.
Patah tulang akibat osteoporosis tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat mengganggu mobilitas, kemandirian, dan kualitas hidup lansia.
Untuk memperkuat penanganan osteoporosis, Siloam Hospitals Mampang mengembangkan Fracture Liaison Service (FLS), yakni layanan terkoordinasi untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, serta mengarahkan penanganan lanjutan bagi pasien yang mengalami patah tulang akibat kerapuhan tulang.
Siloam Hospitals Mampang juga tercatat dalam Map of Best Practice Capture the Fracture yang dikelola IOF dengan status New FLS (Blue Star).
Selain itu, rumah sakit tersebut menyediakan tujuh program skrining, meliputi osteoporosis, osteoartritis lutut, nyeri punggung bawah, nyeri bahu, kaki dan pergelangan kaki, active life medical check-up (MCU), serta skrining berbasis komunitas.
Melalui deteksi dini dan penanganan yang terkoordinasi, upaya menjaga kesehatan tulang diharapkan tidak hanya berfokus pada pengobatan setelah terjadi patah tulang, tetapi juga mencegah risiko pengeroposan sejak dini.