“Dikatakan osteoporosis itu kan terjadi biasanya ada dua tipe. Ini kita bicara osteoporosis primer, yang bukan karena penyakit. Itu yang karena penyakit sekunder namanya. Kalau yang primer itu rata-rata dibagi dua, yaitu yang satu osteoporosis post-menopause, itu pada wanita,” ujarnya.
Menurut Henry, osteoporosis pascamenopause lebih berisiko dialami perempuan karena perubahan hormon setelah memasuki masa menopause. Sementara osteoporosis senilis berkaitan dengan pertambahan usia dan dapat dialami laki-laki maupun perempuan.
“Jadi dekat-dekat menopause sudah mulai itu dong, osteoporosis. Kalau yang kedua tuh senilis, senilis tuh untuk orang tua. Nah, itu lebih tua 60-70. Nah, itu sama, laki-laki perempuan sama. Tapi kalau yang postmenopause, perempuan. Perempuan duluan kena karena menopause, kalau laki-laki kan nggak ada, ya andropause beda dah,” katanya.
Untuk mengurangi risiko pengeroposan tulang, Henry menyarankan masyarakat membangun kepadatan tulang sejak usia muda melalui aktivitas fisik dan olahraga secara rutin. Sebab, massa tulang akan mencapai puncaknya pada usia sekitar 30-an sebelum perlahan mengalami penurunan.
“Jadi makin tebal, makin tebal, terus mencapai puncak 30-an, habis itu turun semua. Jadi kalau misalnya puncakmu, puncaknya tinggi, nanti turunnya sampai umur 50-60 masih bagus,” ujarnya.